SENYUM KARYAMIN
PRAKATA
Usaha
mengumpulkan cerita Ahmad Tohari ini sebenarnya telah saya mulai sejak tahun
1984.Keterkaitan saya terutama lantaran gaya bahasanya yang lugas,jernih,dan
juga sederhana,di samping kuatanya metafora dan ironi.Soal lingkungan
hidup yang jarang dijamah atau dijadikan latar oleh pengarang Indonesia justru
menjadi salah satu daya pikat karya-karya Tohari.Kekuatan latar itu jadi
terasa lebih pas karena yang tampil sebagai tokoh sentralnya adalah warga desa
dari kalalangan wong cilik.Ia seolah-olah mewakili teriakan rakyat kecilatau
masyarakat petani yang miskin,bodoh,dan meralat.
SENYUM
KARYAMIN
Karyamin
melangkah pelan dan sangat hati-hati.Beban yang menekan pundaknya adalah
pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali.Karyamin sudah berpengalaman
agar setiap perjalanannya selamat.Meskipun demikian,pagi ini Karyamin sudah dua
kali tergelincir .Tubuhnya rubuh,lalu
mengelinding ke bawah,berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari
keranjangnya.
Kali
ini Karyamin merayap lebih hati-hati.Meski dengan lutut yang sudah
bergetar,jemari kaki dicengkramkannya ke tanah.Bisa jadi Karyamin akan selamat
ke atas bila tak ada burung yang nakal.Seekor burung paruh udang terjun dari
ranting yang menggantung di atas air,menyambar seekor ikan kecil,lalu melesat
tanpa rasa salah hanya sejengkal di depan mata Karyamin.Dan Karyamin masih
terduduk sambil memandang ke dua keranjangnya yang berantakan dan hampa.Angin
yang bertiup lemah membuat kulitnya merinding,meski matahari sudah cukup
tinggi.
Tetapi
kawan-kawan Karyamin mulai berceloteh tentang perempuan yang sedang
menyeberang.Mereka melihat sesuatu yang enak di pandang.Mereka tertawa
bersama.Mereka,para pengumpul batu itu,memang pandai bergembira dengan cara
mentertawakan diri mereka sendiri.Dan Karyamin tidak ikut tertawa,melainkan
cukup tersenyum.Memang Karyamin telah berhasil membangun Metamorana kemenangan
dengan senyum dan tertawanya.
Jadi,Karyamin
hanya tersenyum.Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan
berputar.Diambilnya keranjang dan pikulan,kemudian Karyamin berjalan menaiki
tanjakan.Ketika di perjalanan si paruh udang kembali melintas cepat dengan
suara mencecet.Karyamin tidak lagi membencinya karena sadar,burung yang
demikian sibuk pasti sedang mencari makanan buat anak-anaknya dalam sarang
entah di mana.Oh,si paruh udang.Punggungnya biru mengkilap,dadanya putuh
bersih,dan paruhnya merah saga.Tiba-tiba burung itu menukik menyambar ikan
kepala timah sehingga air berkecipak.Karyamin berjalan cepat meskipun kadang
secara tiba-tiba banyak kunang-kunang menyerbu ke dalam rongga matanya.
Walaupun
masih dengan seribu kunang-kunang di matanya,Karyamin mulai berfikir ada
perlunya dia pulang.Maka pelan-pelan Karyamin membalikan badan,siap kembali
turun.Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum,melainkan tertawa
keras-keras.Demikian keras sehinnga mengundang seribu lebah masuk ke
telinganya,seribu kunang masuk ke dalam matanya,lambungnya yang kepompong berguncang-guncangdan
merapuh kan keseimbangan seluruh tubuhnya.
JASA-JASA
BUAT SANWIRYA
Ranti
dan aku patuh saja mengikuti perintah-perintah Sampir.Membukakan ikat pinggang Sanwirya
dan membersihkan mukanya dari kotoran muntahan.Sampir mundur ketika dukun datang.Ia
pasti akan menggerak-gerakan tangan Sanwiya bila dukun tidak mencegahnya.Ajian sangkal
patung sedang dibacakan.
Cara
kasihan kepada penderes itu.Menyobek
kausyang sedang ku pakai untuk membalut luka Sanwirya adalah sejenis rasa
kasihan yang telah kulakukan.Musim ini semua orang hanya menanam ubi estepe
sebab celeng dan monyet tak mau menyukainya.Ketika semuanya
terdiam,rintihan Sanwirya terdengar kembali .Sekarang suaranya datang dari
pangkal tenggorokannya.Suara batuk dan muntah balik dinding membuat Sampir
mengurungkan gelaknya.
Lima
anak kecil memandang Sampir yang terbahak.Mereka tidak menutupi kemaluannya
masing-masing.Di atas pundak mereka ada seikat ranting bambu untuk memasak nira.Nyai
Sanwirya kedengaran mengisak dan akhirnya meratap dengan panjang.Di bawah pohon
manggis,aku lihat dia jatuh tersandung pongkor,bangun dan lari.
SI MINEM
BERANAK BAYI
Kasdu
terus berjalan.Lepas dari perkampungan dia menapaki jalan sempit yang membelah
perbukitan.Kiri-kanan jalan adalah tebing dengan cerdasnya yang kering-renyah
berbongkah-bongkah.Akar-akaran menggantung pada tebing jalan
itu.Menggapai-gapai sepeti cakar-cakar mati yang ingin meraih tanah.Langkah
kasdu yang cepat diiringi suara “krepyak-krepyak”; bunyi dedaunan kering yang
remuk terinjak.
Di
bawah matahari wajah kasdu kelihatan makin keras.Alis mata menyembunyikan sorot
yang berat.Wajah Kasdu memperlihatkan bekas-bekas tempaan yang pahit.Di depan
ceruk tanah yang biasa menampung mata air itu,Kasdu berdiri bisu.Tak ada air
barang setetes.Ceruk itu penuh dengan daun angsana kering.Menyertai
langkah-langkahnya yang mulai melambat,Kasdu teringat akan Minem,istrinya.
Seorangg
bayi sebesar lengan tergolek tak berdaya di sampingnya.Bayi itu kecil,kecil
sekali.Kasdu merasa sukar percaya bahwa sesuatu yang bergerak lemah dan
bersuara nyaris mirip anak kucing itu adalah seorang bayi yang bisa menjadi
manusia.Tetapi bayi sebesar lengan itu terpaksa terhempas dari rahim Minem
ketika Minem terjatuh sebagai membawa tembikar penuh air.
Kasdu
melihat sendiri ketika Minem telentang dengan kedua lututnya yang
terlipat.Mukanya merah padamdan napasnya tersengal.Orang-orang perempuan yang
berpengalaman memberi petunjuk kepada Minem,bagaimana mengambil sikap hendak
melahirkan.Kini Kasdu dalam perjalanan ke rumah mertuanya hendak melaporkan
perihal Minem.Bagaimana tanggapan mertuanya nanti adalah tanda tanya besar yang
sedang menggalau hati Kasdu.
Tidak
tahu.Sungguh,Kasdu tidak tahu mana yang bakal terjadi.Seperti dia juga tidak
tahu mengapa perkawinanya dengan Minem mesti menghasilkan seorang bayi yang
sungguh kecil itu.Seperti dia juga tidak tahu apakah Minem dan si kecil itu
masih hidup.Makin dekat ke rumah mertuanya,langkah-langkah Kasdu makin
lambat.Bukan hanya karena lelah,tetapi terutama hentikanrasa tak menentu Kasdu
menunggu tanggapan kedua orang mertuanya.
SURABANGLUS
Bunga-bunga
api kecil melintik ke udara ketika tangan Suing mengusik perapian.Tangan yang
pucat dan bergerak lemah.Agak jauh dari perapian,Kiriman ,teman Suing,duduk
lemas bersandar pada sebuah tonggak.Kini mereka merasa aman bersembunyi dalam
sebuah belukar puyengan.Tentulah singkong itu belum empuk.Tetapi tangan Suing
terus mengusik perapian untuk mengeluarkan isinya.Tiga gelintir singkong sudah
di keluarkan.Suing memukul-mukulkan sepotang kayu untuk mematikan bara pada
ujung-ujung singkong bakar itu.Kimin menghentiksn kata-katanya karena melihat
wajah Suing berubah menjadi topeng yang pasi.
Akhirnya
Suing jatuh pingsan sudah dimengerti oleh Kimin.Tubuhnya menggigil,dingin
seperti kulit kodok.Bols mata yang pucat itu hanya bergulir perlahan.Reka-reka
Kimin berhasil membuat Suing menjadi lebih tenang.Wajah topengya berangsur
hidup.Matahari yang berada di tengah juring langit bagian barat.Kimin berlari
turun.Dirinya menjadi satu-satunya titikyang bergerak di antara ribuuan
tonggak-tonggak yang berbaris mati.Kimin ingin secepatnya sampai ke tempat
Suing.Hanya karena air dan sebungkus nasi di tangannya,yang mungkin berarti
nyawa Suing.Kimin bangkit,berjalan berputar-putar karena bingung.
TINGGAL
MATANYA BERKEDIP-KEDIP
Kami
tdak menyangka akhirnya si Cepon,kerbau kami,rubuh di tengah sawah yang hendak
dibajak.Tidak seperti tahun-tahun yang lalu,musim pengujan kali ini ayahdi buat
pusing oleh si Cepon.Kerbau itu menjadi binal.Dua hari yang lalu ketika datang
atas panggilan ayah,Musgepuk mulai menangani kerbau kami dengan tipu daya.Dalam
keadaan terguling di tanah,kerbau kami tidak bisa berbuat banyak.Apalagi
kemudian Musgepuk juga mengikat kedua kaki depannya.Kulihat ayah memaksakan
dirinya untuk bungkam.Naumun garis-garis samar pada wajah ayah bisa aku baca.
Beberapa
orang perempuan menunjukan rasa ngeri melihat jarum besar serta tali ijuk di
tangan Musgepuk.Mereka menguncupkan bahu dan menutup wajah dengan telapak
tangan.Wajah perempuan itu berubah menjadi masam.Musgepuk tertawa lebar karena
merasa sayap kata-katanya sampai kepada sasaran dengan telak.
Jadi,semua
orang menahan rasa karena akan melihat darah menguncur dari hidung si
Cepon.Hasil permainan Musgepuk segera terlihat.Terbukti Musgepuk bersyaraf
tangguh.tanganya terus bekerja.Tak ada manusia yang merasa lebih puas dari pada
dia yang baru saja berhasil menerangkan arti keberadaanya.
Si
Cepon yang tergolek dan setengah mengapung di atas lumpur dua hari kemudian.Aku
dan ayah berdiri tegak jauh dari pemtang.Kami melihat Musgepuk
menggeleng-gelengkan kepala.Di bawah matahari yang panas,aku dan ayah
menyaksikan Musgepuk menjatuhkan pundak lalu pergi meninggalkan si Cepon tanpa
berbicara sedikit pun.
AH,JAKARTA
Kedatangannya
pada suatu malam di rumahku memang mengejutkan.Sudah lama aku tidak
melihatnya.Malam itu dia datang.Jalannya terpincang-pincang.Lima jari kaki
kanannya luka.Perbanya sudah kumal.Matanya menatap ku sebentar.Lalu
menunduk.Lehernya kelihatan kecil.Kami bertatapan.Aku tahu dia sedang menyelidiki
sikapku,apakah kedatangannya tidak membuatku susuah.
Suasana
yang semakin cair membuat karibku itu makin lancar bercerita.Sebuah pengakuan
yang lengkap yang pasti disukai oleh para penyidik.Hanya diperlukan jepit buku
buatan Taiwan untuk mendobrak jendela nako.Dia memperagakan pada jendela nako
di rumahku.Yang punya rumah bangun dan menjemput kami di ruang tengah dengan
pistol di tangan.Aku menutup mata dengan bantal.Istriku masih nyerocos.
Tetapi
akhirnya dia mengalah,diam setelah berkali-kali mendesah panjang.Pagi-pagi
setelah subuh kubuka pintu kamar karibku.Dia sudah lenyap.Entahlah,sejak saat
itu aku jadi senang pergi ke pasar.Di depan pasar kecild di kotaku yang kecil
ada terminal colt.Lama aku berdiri bingung tak tahu harus berbuat apa.Mayat
karibku teronggok hanya dengan cawat Casanova.
Ketika
kutinggalkan tepian kali Serayu yang berajak dua puluh kilo dari rumahku
itu,ternyata ada beberapa orang yang menonton.Apalagi sebentar lagi kali Serayu
akan banjir.Kubur karibku akan tersapu air bah.Belulangnya akan jadi
antah-barantah.
BLOKENG
Maka
Blokeng pun melahirkan bayinya: perempuan.Lalu kampungku tiba-tiba jadi
lain,terasa ada kemandekan yang mencekam.Periham perempuan hamil di luar
nikah,sebenarnya tidak lagi menjadi isu yang mengesankan di kampungku.Tetapi
tentang si Blokeng memang tak ada duanya.Jadi,ketika Blokeng bunting,lalu
melahirkan bayi perempuan,kampuang blingsatan.
Perempuan-perempuan
berdecap-decap sambil mengusap dada.Kaum lelaki kampungku cengar-cengir.Sebab
Blokeng memang tak ada duanya dan setiap perempuan akan merasa demikian malu
bila diperbandingkan dengan dia.Maka keesokan hari tersisir berita: ayah bayi
Blokengadalh seorang lelaki yang memiliki lampu senter.
Sekali
waktu ada sas-sus baru.Katanya,Blokeng memberikan keterangan lain tentang
laki-laki yang membuntinginya.Dia adalah seorang laki-laki yang malam-malam
merangkak ke dalam sarangnya dan memakai sandal jepit.Sampai Blokeng dengan
selamat melahirkan bayinya dibidani nyamuk dan kecoa.
Lurah
Hadining tersenyum.Setelah sekian hari memikirkan cara buat melenyapkan
keblingsatan warganya akibat kelahiran bayi Blokeng.Kemudian Lurah Hadining
meminta kampungku menjadi saksi.Sejenak kampungku terpana mendengar ucapan
lurah Hidining.Gubuk Blokeng penuh dirubung orang.Suara langkah kaki di tanah
becek.
Kampungku
tergagap-gagap,tak terkecuali lurahnya,sedetik setelah mendengar ucapan
Blokeng.Lihatlah wajah-wajah mereka yang baur dan buram.Mereka menggaruk kepala
masing-masing yang sama sekali tidak botak kecuali Lurah Hadining.Hanya Blokeng
sendiri yang tidak ikut blingsatan.
SYUKURAN
SUTABAWOR
Hari
ini sebuah sumber berita yang amat terpercaya mengatakan bahwa Sutabawor sedang
mengadakan syukuran.Yang membuat Sutabawor selalu kesal adalah sebatang pohon
jengkol,kata sumber berita tadi.Orang tani seperti Sutabowor mengerti bila
bunga-bunganya di rubung serangga,itu pertanda baik; bunga itu pasti akan tubuh
menjadi buah.
Tetapi
menurut sumber berita itu ,Sutabowor selalu kecewa karena bunga jengkolnya
luruh ke tanah dan tak secuil pun yang menjadi buah.Sekali waktu karena telah
berputus asa Sutabowor selalu kecewa karena bunga jengkolnya luruh ke tanah dan
tak secuil pun yang menjadi buah.
Pada
musim berikut,ternyata pohon jengkol Sutabowor berbunga dan berbuah sangat
lebat.Dahan-dahannya runduk karena menahan beban berat.Sutabowor lansung sujud
syukur dan mengadakan syukuran di rumahnya.Dalam acara syukuran,kepada tetangga
yang di undang Sutabowor menceritakan pengalamannya dengan pohon jengkolnya
yang sekian lama tidak berubah.Sesudah syukuran Sutabowor menutup
laporannya,sumber berita yang amat tepercaya itu mengatakan bahwa akhirnya
mertua Sutabawor datang buat mengembalikan suasana sumringah.
“Sedulur-sedulur,dengarlah.Sampean
semua jangan salah tafsir.Mantera itu adalah hasil pangraita pujangga zaman
dahulu.Mertua Sutabawor terpekur.Dan menggeleng-geleng.Mulutnya lalu bergumam
lirih sekali sehingga hanya sumber berita itu yang bisa mendengarnya.Hari itu
sebuah sumber berita yang amat terpecaya mengatakan bahwa di rumah Sutabawor
dengan ada syukuran.
RUMAH YANG
TERANG
Listrik
sudah empat tahun masuk kampungku dan sudah banyak yang di lakukannya.Kampung
seperti mendapat injeksi tenaga baru yang membuatnya menggeliat penuh
gairah.Sebuah tiang lampu tertancap di depan rumahku.Sampai sekian lama,rumahku
tetap gelap.Ayahku tidak mau pasang listrik.
Sampai
sekian lama,rumahku tetap gelap.Kampungku yang punya kegemaran berceloteh
seperti mendapat jalan buat berkata seenaknya terhadap ayah.Kadang celoteh yang
sampai ke telingaku demikian tajam sehingga aku hampir tak kuat menerimanya.
Ketika
belum tahu latar belakang sikap ayah,aku sering membujuk.Betpa juga ayah adalah
orang tuaku,yang membiayai sekolahku sehingga aku kini adalah seorang
propagandis pemakaian kondom dan spiral.Ketika ayahku sakit,beliau tidak mau
dirawat di rumah sakit.Keadaan beliau makin hari makin serius.Tapi beliau
bersiteguh tak mau diopname.Tidak lama sesudah itu ayah meninggal dunia.Dengan
kepergiannya aku merasa sedih sekali.Aku di tinggalkan oleh orang yang sangat
aku cintai.
Seratus
hari sesudah kematian ayah,orang-orang bertahlil di rumahku sudah duduk di
bawah lampu neon dua puluh watt.Mereka memandangi lampu dan
tersenyum.Linglung,tiba-tiba mulutku menyerotos.Kepada para tamu yang bertahlil
aku mengatakan alas an yang sebenarnya mengapa ayahku tidak suka listrik,suatu
hal yang seharusnya tetap aku simpan.Aku siap menerima celoteh dan olok-olok
yang mungkin akan dilontarkan oleh para tamu.Semoga ayahku mendapatkan cukup
cahaya di alam sana.
KENTHUS
Keluar
dari rumah ketua RT,Kenthus merasa dirinya bukan lagi seorang Kenthus.Wajahnya
bingar.Senyumnya sesekali berubah menjadi bentuk bibirnya yang berhias cokop di
kedua ujungnya.Sampai di rumah,Kenthus mendorong pintu bamboo dengan gaya yang
gagah.Kenthus bangkit.Kediriannya yang baru menggeliat sejak pulang dari rumah
ketua RT pagi tadi,tersinggung.
Menjelang
pukul tiga,beberapa orang sudah muncul di rumah Khentus membawa buntut
tikus.Ada yang di ikat seperti iktan kacang panjang.Kenthus berlagak tak acuh.Dia
sibuk menata meja dan kursi buat dirinya sendiri.Lalu duduk penuh gaya,di
tangannya ada pensil dan kertas kumal.Dalam hati,Khentus berdoa,kiranya dia
tidak lupa bagaimana membuat tulisan cakar ayam.
Kenthus
tetap duduk,tekun dengan cakar ayam yang sedang dibuatnya di atas kertas
lusuh.Dia tidak merasa perlu cepat tanggap karena dia sudah mimpi nunggang
macan.Kenthus masih terkekah melihat liput-liput yang bergerak dalam
antrean.Sesunggahnya Kenthus tidak menghendaki tontonan di hadapannya cepat
berakhir.Tetapi tiang ember rumahnya berderak oleh tekanan orang-orang yang
antre.Kenthus bengong.Dia hanya melihat tanpa daya istinya yang lari lalu
membanting pintu dari luar.
ORANG-ORANG
SEBERANG KALI
Kami
menyebut mereka orang-orang seberang kali.Terlalu berlebihan sebenarnya karena
tinggal tidak lebih dari seratus meter dari kami.Lalu kami mengira titian
batang pinang jarang di lalui orang karena siapa saja akan takut tergelincir
dan melayang dua meter ke bawah lalu hinggap di atas pasta kuning? Yang jelas
mereka selalu melewati titian batang pinang sambil mengepit atau menjinjing.
Lucunya,kami
tidak bisa melupakan jasa orang orang seberang kali, terumtama karena ayam ayam
jago mereka.Setiap fajar seakan ayam jago menjadi milik orang seberaqng kali
karena jago mereka selalu berkokok lebih awal dari jago siapa pun, bahkan lebih
awal dari kokok muadzim di surau kami.
Untuk
saudaraku orang orang sebrang kali aku hanya bisa tersenyum dan mengerakkan
kepala.Lalu Kang Samin megulangi permintaannya,agar aku pergi menjenguk
Madrakum si botoh adu ayam dari seberang kali.Ketika aku melawati titian batang
pinang itu.Pakis-pakisan di tebing parit hijau dan segar dengan dengan
tetes-tetes embun di puncak-puncaknya.Segar seperti perawan yang basah
rambutnya setelah mandi keramas.
Di
rumah Madrakum sudah ada enam atau tujuh lelaki.Aku duduk di atas kursi dekat
kepala Madrakum.Kang Smin membuka jendela singkap yang harus selalu ditopang
dengan sebilah kayu.Kang Samin menduga aku akan membaca kitab.Dia tidak tahu
aku hafal Surah Yassin di luar kepala.Orang-orang seberang kali ternyata bisa
menciptakan hening ketika aku membacakan ayat-ayat suci.Tapi ayam-ayam jago
mereka tidk.maka suaraku sering tengelam oleh suara kokoh jago yang bersahutan
tak henti-hentinya.selesai dengan bacaan suci,aku bangkit.aku permisi pulang
hendak menyampaikan berita perikeadaan madrakum sekali lagi disebut dengan
keheningan.
Yang
pertama kulakukan setelah sampai kembali ke rumah adalah memberitahukan keadaan
madrakum kepada istriku sendiri.lalu aku keluar hendak menghubungi tetangga
kiri-kanan.tapi baru mendapat satu rumah aku harus menghentikan niat.kang samin
muncul.Langkahnya panjang-panjang.
;;wah,mas.Terima
kasih.Kang madrakum sudah tiada.Sungguh-sungguh sudah mati dia.Terima
kasih,Mas’’
‘Inna
lilahi’’
‘’Ya.
Tapi ya itu.Mas sekali madrakum tetap madrakum.Dia suka aneh-aneh saja,’’Kata
kang samin sambil tersenyum.
‘’Kamu
menertawakan saudara yang baru meninggal?’’Maksudku bukan begitu.Hanya mau
bilang,Mandra-kum suka aneh-aneh .Itu saja.’’
Maka
sambil senyum-senyum, samin bercerita tentang kerabatnya di seberang kali
itu.Katanya,tidak lama setelah aku mengundurkan diri madrakum bangkit.Turun
dari membuat gerakan-gerakan persis ayam jago sedang mengombal betinanya.Tidak
hanya itu. Madrakum kemudian keluar halaman ,lagi-lagi berdiri dengan megah
.Matanya liar.Kedua tangannyamengembang untuk membuat gerakan-gerakan memgempak.Kaum
kerabat yang terpana dibuat lebih kecut karena kemudian madrakum berkokoh
berkali-kali.Suaranya demikian mirip dengan binatang yang dipili-haranya
sehinga semua ayam jago di seberang kali menyahutnya berganti-ganti. Tapi
semuanya segera berakhir ketika madrakumkemudian jatuh melingkar di tanah.Mati.
WANGON JATILAWANG
Wajah dua temanku mendadak berubah ketika Sulam
masuk.Mereka makin bingung melihat Sulam terus melangkah dan berdiri tepat di
sisiku.Kedua serta sepatu bagus itu,tentu tak mengenal Sulam.Namun pasti
mengenal dia.Sepanjang ruas jalan raya kelas dua itu nama Sulam sangat
terkenal.
Kedua tamuku yang berbaju lengan panjang dan bersepatu
bagus itu mengangguk-angguk.Kukira keduanya mersa heran.Tetapi aku tak
tahu,apakah mereka heran terhadapku atau tehadap orang-orang kenduri yang
tersinggung oleh kedatangan Sulam itu.
Wangon dan Jatilawang adalah duo kota kecamatan.Jarak
keduanya tujuh kilometer itu pulang pergi.Memasuki bulan puasa,Sulam tetap
singgah ke rumahku setiap pagi.Tetapi sikapnya berubah.Dia kelihatan malu
ketika menyantap nasi yang kuberikan.Setiap kali dalam kesempatan berada Sulam
selalu bercolotes.
Dekat hari lebaran,pagi-pagi sekali,Sulam telah berada
di rumahku.Aku tidak melihat kedatangannya,dan tiba-tiba saja dia sudah duduk
di ruang makan.Sulam mengangkat muka lalu tersenyum aneh.Nasi di depannya
dimakan dengan lahap,sementara aku pergi kandang ayam.
Jam tujuh pagi hari itu juga penyesalanku menghunjam
ke dasar hati.Seorang tukang becak sengaja datang ke rumahku.Pak,Sulam mati
tergilas truk di batas kota jatilawang.Bisa jadi tukang becak itu masih berkata
banyak.Namun kalimat pertamanya yang terdenga sudah cukup.Aku tak ingin
mendengar ceritanya lebih jauh.Aku malu,perih.
PENGEMIS DAN SHALAWAT BADAR
Bus yang aku tumpangi masuk terminal Cirebon ketika
matahari mencapai pucuk langit.Suasana sungguh gerah,sangat bising dan para
penumpang tak berdaya melawan ke adaan yang sangat menyiksa itu.Dalam ke adaan
seperti itu,harapan para penumpang hanya satu.Yaitu hendaknya sopir cepat
datang dan bus segera bergerak kembali untuk meneruskan perjalanan ke Jakarta.
Sementarapenumpang lain kelihatan sangat gelisah dan
jengkel,aku mencoba bersikap lain.Perjalanan semacam lain sudah puluhan kali
aku alami.Masih banyak hal yang belum sempat aku baca ketika seorang lelaki
naik ke dalam bus.
Kulihat dan kudengar sendiri ada lelaki membaca
shalawat badar untuk mengemis.Ku kira pengemis itu sering mendatangi
pengajian-pengajian.Ku kir dia sering mendengar ceramah-ceramah tentang kebaikan
hidup dunia maupun akhirat.
Shalawat yang di baca oleh pengemis itu mengalun dan
terdengar makin jelsa karena tak ada lagi suara kondektur.Para penumpang
membisu dan terlena dalam pikiran masing-masing.Aku pun mulai mengantuk
sehingga lama-lama aku tak bisa membedakan mana suara shlawat dan mana derum
mesindiesel.Telingaku dengan gemblang mendengar suara lelaki yang terusa
berjalan dengan tenang kea rah timur itu:”shalatullah,salamullah,ala thaha
rasulillah…”