Kamis, 12 Mei 2016

Novel - Senyum Karyamin

SENYUM             KARYAMIN
PRAKATA
Usaha mengumpulkan cerita Ahmad Tohari ini sebenarnya telah saya mulai sejak tahun 1984.Keterkaitan saya terutama lantaran gaya bahasanya yang lugas,jernih,dan juga sederhana,di samping kuatanya metafora dan ironi.Soal lingkungan hidup yang jarang dijamah atau dijadikan latar oleh pengarang Indonesia justru menjadi salah satu daya pikat karya-karya Tohari.Kekuatan latar itu jadi terasa lebih pas karena yang tampil sebagai tokoh sentralnya adalah warga desa dari kalalangan wong cilik.Ia seolah-olah mewakili teriakan rakyat kecilatau masyarakat petani yang miskin,bodoh,dan meralat.
SENYUM KARYAMIN
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati.Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali.Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalanannya selamat.Meskipun demikian,pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir  .Tubuhnya rubuh,lalu mengelinding ke bawah,berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya.
Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati.Meski dengan lutut yang sudah bergetar,jemari kaki dicengkramkannya ke tanah.Bisa jadi Karyamin akan selamat ke atas bila tak ada burung yang nakal.Seekor burung paruh udang terjun dari ranting yang menggantung di atas air,menyambar seekor ikan kecil,lalu melesat tanpa rasa salah hanya sejengkal di depan mata Karyamin.Dan Karyamin masih terduduk sambil memandang ke dua keranjangnya yang berantakan dan hampa.Angin yang bertiup lemah membuat kulitnya merinding,meski matahari sudah cukup tinggi.
Tetapi kawan-kawan Karyamin mulai berceloteh tentang perempuan yang sedang menyeberang.Mereka melihat sesuatu yang enak di pandang.Mereka tertawa bersama.Mereka,para pengumpul batu itu,memang pandai bergembira dengan cara mentertawakan diri mereka sendiri.Dan Karyamin tidak ikut tertawa,melainkan cukup tersenyum.Memang Karyamin telah berhasil membangun Metamorana kemenangan dengan senyum dan tertawanya.
Jadi,Karyamin hanya tersenyum.Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar.Diambilnya keranjang dan pikulan,kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan.Ketika di perjalanan si paruh udang kembali melintas cepat dengan suara mencecet.Karyamin tidak lagi membencinya karena sadar,burung yang demikian sibuk pasti sedang mencari makanan buat anak-anaknya dalam sarang entah di mana.Oh,si paruh udang.Punggungnya biru mengkilap,dadanya putuh bersih,dan paruhnya merah saga.Tiba-tiba burung itu menukik menyambar ikan kepala timah sehingga air berkecipak.Karyamin berjalan cepat meskipun kadang secara tiba-tiba banyak kunang-kunang menyerbu ke dalam rongga matanya.
Walaupun masih dengan seribu kunang-kunang di matanya,Karyamin mulai berfikir ada perlunya dia pulang.Maka pelan-pelan Karyamin membalikan badan,siap kembali turun.Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum,melainkan tertawa keras-keras.Demikian keras sehinnga mengundang seribu lebah masuk ke telinganya,seribu kunang masuk ke dalam matanya,lambungnya yang kepompong berguncang-guncangdan merapuh kan keseimbangan seluruh tubuhnya.
JASA-JASA BUAT SANWIRYA
Ranti dan aku patuh saja mengikuti perintah-perintah Sampir.Membukakan ikat pinggang Sanwirya dan membersihkan mukanya dari kotoran muntahan.Sampir mundur ketika dukun datang.Ia pasti akan menggerak-gerakan tangan Sanwiya bila dukun tidak mencegahnya.Ajian sangkal patung sedang dibacakan.
Cara kasihan kepada penderes itu.Menyobek kausyang sedang ku pakai untuk membalut luka Sanwirya adalah sejenis rasa kasihan yang telah kulakukan.Musim ini semua orang hanya menanam ubi estepe sebab celeng dan monyet tak mau menyukainya.Ketika semuanya terdiam,rintihan Sanwirya terdengar kembali .Sekarang suaranya datang dari pangkal tenggorokannya.Suara batuk dan muntah balik dinding membuat Sampir mengurungkan gelaknya.
Lima anak kecil memandang Sampir yang terbahak.Mereka tidak menutupi kemaluannya masing-masing.Di atas pundak mereka ada seikat ranting bambu untuk memasak nira.Nyai Sanwirya kedengaran mengisak dan akhirnya meratap dengan panjang.Di bawah pohon manggis,aku lihat dia jatuh tersandung pongkor,bangun dan lari.

SI MINEM BERANAK BAYI
Kasdu terus berjalan.Lepas dari perkampungan dia menapaki jalan sempit yang membelah perbukitan.Kiri-kanan jalan adalah tebing dengan cerdasnya yang kering-renyah berbongkah-bongkah.Akar-akaran menggantung pada tebing jalan itu.Menggapai-gapai sepeti cakar-cakar mati yang ingin meraih tanah.Langkah kasdu yang cepat diiringi suara “krepyak-krepyak”; bunyi dedaunan kering yang remuk terinjak.
Di bawah matahari wajah kasdu kelihatan makin keras.Alis mata menyembunyikan sorot yang berat.Wajah Kasdu memperlihatkan bekas-bekas tempaan yang pahit.Di depan ceruk tanah yang biasa menampung mata air itu,Kasdu berdiri bisu.Tak ada air barang setetes.Ceruk itu penuh dengan daun angsana kering.Menyertai langkah-langkahnya yang mulai melambat,Kasdu teringat akan Minem,istrinya.
Seorangg bayi sebesar lengan tergolek tak berdaya di sampingnya.Bayi itu kecil,kecil sekali.Kasdu merasa sukar percaya bahwa sesuatu yang bergerak lemah dan bersuara nyaris mirip anak kucing itu adalah seorang bayi yang bisa menjadi manusia.Tetapi bayi sebesar lengan itu terpaksa terhempas dari rahim Minem ketika Minem terjatuh sebagai membawa tembikar penuh air.
Kasdu melihat sendiri ketika Minem telentang dengan kedua lututnya yang terlipat.Mukanya merah padamdan napasnya tersengal.Orang-orang perempuan yang berpengalaman memberi petunjuk kepada Minem,bagaimana mengambil sikap hendak melahirkan.Kini Kasdu dalam perjalanan ke rumah mertuanya hendak melaporkan perihal Minem.Bagaimana tanggapan mertuanya nanti adalah tanda tanya besar yang sedang menggalau hati Kasdu.
Tidak tahu.Sungguh,Kasdu tidak tahu mana yang bakal terjadi.Seperti dia juga tidak tahu mengapa perkawinanya dengan Minem mesti menghasilkan seorang bayi yang sungguh kecil itu.Seperti dia juga tidak tahu apakah Minem dan si kecil itu masih hidup.Makin dekat ke rumah mertuanya,langkah-langkah Kasdu makin lambat.Bukan hanya karena lelah,tetapi terutama hentikanrasa tak menentu Kasdu menunggu tanggapan kedua orang mertuanya.
SURABANGLUS
Bunga-bunga api kecil melintik ke udara ketika tangan Suing mengusik perapian.Tangan yang pucat dan bergerak lemah.Agak jauh dari perapian,Kiriman ,teman Suing,duduk lemas bersandar pada sebuah tonggak.Kini mereka merasa aman bersembunyi dalam sebuah belukar puyengan.Tentulah singkong itu belum empuk.Tetapi tangan Suing terus mengusik perapian untuk mengeluarkan isinya.Tiga gelintir singkong sudah di keluarkan.Suing memukul-mukulkan sepotang kayu untuk mematikan bara pada ujung-ujung singkong bakar itu.Kimin menghentiksn kata-katanya karena melihat wajah Suing berubah menjadi topeng yang pasi.
Akhirnya Suing jatuh pingsan sudah dimengerti oleh Kimin.Tubuhnya menggigil,dingin seperti kulit kodok.Bols mata yang pucat itu hanya bergulir perlahan.Reka-reka Kimin berhasil membuat Suing menjadi lebih tenang.Wajah topengya berangsur hidup.Matahari yang berada di tengah juring langit bagian barat.Kimin berlari turun.Dirinya menjadi satu-satunya titikyang bergerak di antara ribuuan tonggak-tonggak yang berbaris mati.Kimin ingin secepatnya sampai ke tempat Suing.Hanya karena air dan sebungkus nasi di tangannya,yang mungkin berarti nyawa Suing.Kimin bangkit,berjalan berputar-putar karena bingung.
TINGGAL MATANYA BERKEDIP-KEDIP
Kami tdak menyangka akhirnya si Cepon,kerbau kami,rubuh di tengah sawah yang hendak dibajak.Tidak seperti tahun-tahun yang lalu,musim pengujan kali ini ayahdi buat pusing oleh si Cepon.Kerbau itu menjadi binal.Dua hari yang lalu ketika datang atas panggilan ayah,Musgepuk mulai menangani kerbau kami dengan tipu daya.Dalam keadaan terguling di tanah,kerbau kami tidak bisa berbuat banyak.Apalagi kemudian Musgepuk juga mengikat kedua kaki depannya.Kulihat ayah memaksakan dirinya untuk bungkam.Naumun garis-garis samar pada wajah ayah bisa aku baca.
Beberapa orang perempuan menunjukan rasa ngeri melihat jarum besar serta tali ijuk di tangan Musgepuk.Mereka menguncupkan bahu dan menutup wajah dengan telapak tangan.Wajah perempuan itu berubah menjadi masam.Musgepuk tertawa lebar karena merasa sayap kata-katanya sampai kepada sasaran dengan telak.
Jadi,semua orang menahan rasa karena akan melihat darah menguncur dari hidung si Cepon.Hasil permainan Musgepuk segera terlihat.Terbukti Musgepuk bersyaraf tangguh.tanganya terus bekerja.Tak ada manusia yang merasa lebih puas dari pada dia yang baru saja berhasil menerangkan arti keberadaanya.
Si Cepon yang tergolek dan setengah mengapung di atas lumpur dua hari kemudian.Aku dan ayah berdiri tegak jauh dari pemtang.Kami melihat Musgepuk menggeleng-gelengkan kepala.Di bawah matahari yang panas,aku dan ayah menyaksikan Musgepuk menjatuhkan pundak lalu pergi meninggalkan si Cepon tanpa berbicara sedikit pun.
AH,JAKARTA
Kedatangannya pada suatu malam di rumahku memang mengejutkan.Sudah lama aku tidak melihatnya.Malam itu dia datang.Jalannya terpincang-pincang.Lima jari kaki kanannya luka.Perbanya sudah kumal.Matanya menatap ku sebentar.Lalu menunduk.Lehernya kelihatan kecil.Kami bertatapan.Aku tahu dia sedang menyelidiki sikapku,apakah kedatangannya tidak membuatku susuah.
Suasana yang semakin cair membuat karibku itu makin lancar bercerita.Sebuah pengakuan yang lengkap yang pasti disukai oleh para penyidik.Hanya diperlukan jepit buku buatan Taiwan untuk mendobrak jendela nako.Dia memperagakan pada jendela nako di rumahku.Yang punya rumah bangun dan menjemput kami di ruang tengah dengan pistol di tangan.Aku menutup mata dengan bantal.Istriku masih nyerocos.
Tetapi akhirnya dia mengalah,diam setelah berkali-kali mendesah panjang.Pagi-pagi setelah subuh kubuka pintu kamar karibku.Dia sudah lenyap.Entahlah,sejak saat itu aku jadi senang pergi ke pasar.Di depan pasar kecild di kotaku yang kecil ada terminal colt.Lama aku berdiri bingung tak tahu harus berbuat apa.Mayat karibku teronggok hanya dengan cawat Casanova.
Ketika kutinggalkan tepian kali Serayu yang berajak dua puluh kilo dari rumahku itu,ternyata ada beberapa orang yang menonton.Apalagi sebentar lagi kali Serayu akan banjir.Kubur karibku akan tersapu air bah.Belulangnya akan jadi antah-barantah.
BLOKENG
Maka Blokeng pun melahirkan bayinya: perempuan.Lalu kampungku tiba-tiba jadi lain,terasa ada kemandekan yang mencekam.Periham perempuan hamil di luar nikah,sebenarnya tidak lagi menjadi isu yang mengesankan di kampungku.Tetapi tentang si Blokeng memang tak ada duanya.Jadi,ketika Blokeng bunting,lalu melahirkan bayi perempuan,kampuang blingsatan.
Perempuan-perempuan berdecap-decap sambil mengusap dada.Kaum lelaki kampungku cengar-cengir.Sebab Blokeng memang tak ada duanya dan setiap perempuan akan merasa demikian malu bila diperbandingkan dengan dia.Maka keesokan hari tersisir berita: ayah bayi Blokengadalh seorang lelaki yang memiliki lampu senter.
Sekali waktu ada sas-sus baru.Katanya,Blokeng memberikan keterangan lain tentang laki-laki yang membuntinginya.Dia adalah seorang laki-laki yang malam-malam merangkak ke dalam sarangnya dan memakai sandal jepit.Sampai Blokeng dengan selamat melahirkan bayinya dibidani nyamuk dan kecoa.
Lurah Hadining tersenyum.Setelah sekian hari memikirkan cara buat melenyapkan keblingsatan warganya akibat kelahiran bayi Blokeng.Kemudian Lurah Hadining meminta kampungku menjadi saksi.Sejenak kampungku terpana mendengar ucapan lurah Hidining.Gubuk Blokeng penuh dirubung orang.Suara langkah kaki di tanah becek.
Kampungku tergagap-gagap,tak terkecuali lurahnya,sedetik setelah mendengar ucapan Blokeng.Lihatlah wajah-wajah mereka yang baur dan buram.Mereka menggaruk kepala masing-masing yang sama sekali tidak botak kecuali Lurah Hadining.Hanya Blokeng sendiri yang tidak ikut blingsatan.
SYUKURAN SUTABAWOR
Hari ini sebuah sumber berita yang amat terpercaya mengatakan bahwa Sutabawor sedang mengadakan syukuran.Yang membuat Sutabawor selalu kesal adalah sebatang pohon jengkol,kata sumber berita tadi.Orang tani seperti Sutabowor mengerti bila bunga-bunganya di rubung serangga,itu pertanda baik; bunga itu pasti akan tubuh menjadi buah.
Tetapi menurut sumber berita itu ,Sutabowor selalu kecewa karena bunga jengkolnya luruh ke tanah dan tak secuil pun yang menjadi buah.Sekali waktu karena telah berputus asa Sutabowor selalu kecewa karena bunga jengkolnya luruh ke tanah dan tak secuil pun yang menjadi buah.
Pada musim berikut,ternyata pohon jengkol Sutabowor berbunga dan berbuah sangat lebat.Dahan-dahannya runduk karena menahan beban berat.Sutabowor lansung sujud syukur dan mengadakan syukuran di rumahnya.Dalam acara syukuran,kepada tetangga yang di undang Sutabowor menceritakan pengalamannya dengan pohon jengkolnya yang sekian lama tidak berubah.Sesudah syukuran Sutabowor menutup laporannya,sumber berita yang amat tepercaya itu mengatakan bahwa akhirnya mertua Sutabawor datang buat mengembalikan suasana sumringah.
“Sedulur-sedulur,dengarlah.Sampean semua jangan salah tafsir.Mantera itu adalah hasil pangraita pujangga zaman dahulu.Mertua Sutabawor terpekur.Dan menggeleng-geleng.Mulutnya lalu bergumam lirih sekali sehingga hanya sumber berita itu yang bisa mendengarnya.Hari itu sebuah sumber berita yang amat terpecaya mengatakan bahwa di rumah Sutabawor dengan ada syukuran.
RUMAH YANG TERANG
Listrik sudah empat tahun masuk kampungku dan sudah banyak yang di lakukannya.Kampung seperti mendapat injeksi tenaga baru yang membuatnya menggeliat penuh gairah.Sebuah tiang lampu tertancap di depan rumahku.Sampai sekian lama,rumahku tetap gelap.Ayahku tidak mau pasang listrik.
Sampai sekian lama,rumahku tetap gelap.Kampungku yang punya kegemaran berceloteh seperti mendapat jalan buat berkata seenaknya terhadap ayah.Kadang celoteh yang sampai ke telingaku demikian tajam sehingga aku hampir tak kuat menerimanya.
Ketika belum tahu latar belakang sikap ayah,aku sering membujuk.Betpa juga ayah adalah orang tuaku,yang membiayai sekolahku sehingga aku kini adalah seorang propagandis pemakaian kondom dan spiral.Ketika ayahku sakit,beliau tidak mau dirawat di rumah sakit.Keadaan beliau makin hari makin serius.Tapi beliau bersiteguh tak mau diopname.Tidak lama sesudah itu ayah meninggal dunia.Dengan kepergiannya aku merasa sedih sekali.Aku di tinggalkan oleh orang yang sangat aku cintai.
Seratus hari sesudah kematian ayah,orang-orang bertahlil di rumahku sudah duduk di bawah lampu neon dua puluh watt.Mereka memandangi lampu dan tersenyum.Linglung,tiba-tiba mulutku menyerotos.Kepada para tamu yang bertahlil aku mengatakan alas an yang sebenarnya mengapa ayahku tidak suka listrik,suatu hal yang seharusnya tetap aku simpan.Aku siap menerima celoteh dan olok-olok yang mungkin akan dilontarkan oleh para tamu.Semoga ayahku mendapatkan cukup cahaya di alam sana.
KENTHUS
Keluar dari rumah ketua RT,Kenthus merasa dirinya bukan lagi seorang Kenthus.Wajahnya bingar.Senyumnya sesekali berubah menjadi bentuk bibirnya yang berhias cokop di kedua ujungnya.Sampai di rumah,Kenthus mendorong pintu bamboo dengan gaya yang gagah.Kenthus bangkit.Kediriannya yang baru menggeliat sejak pulang dari rumah ketua RT pagi tadi,tersinggung.
Menjelang pukul tiga,beberapa orang sudah muncul di rumah Khentus membawa buntut tikus.Ada yang di ikat seperti iktan kacang panjang.Kenthus berlagak tak acuh.Dia sibuk menata meja dan kursi buat dirinya sendiri.Lalu duduk penuh gaya,di tangannya ada pensil dan kertas kumal.Dalam hati,Khentus berdoa,kiranya dia tidak lupa bagaimana membuat tulisan cakar ayam.
Kenthus tetap duduk,tekun dengan cakar ayam yang sedang dibuatnya di atas kertas lusuh.Dia tidak merasa perlu cepat tanggap karena dia sudah mimpi nunggang macan.Kenthus masih terkekah melihat liput-liput yang bergerak dalam antrean.Sesunggahnya Kenthus tidak menghendaki tontonan di hadapannya cepat berakhir.Tetapi tiang ember rumahnya berderak oleh tekanan orang-orang yang antre.Kenthus bengong.Dia hanya melihat tanpa daya istinya yang lari lalu membanting pintu dari luar.
ORANG-ORANG SEBERANG KALI
Kami menyebut mereka orang-orang seberang kali.Terlalu berlebihan sebenarnya karena tinggal tidak lebih dari seratus meter dari kami.Lalu kami mengira titian batang pinang jarang di lalui orang karena siapa saja akan takut tergelincir dan melayang dua meter ke bawah lalu hinggap di atas pasta kuning? Yang jelas mereka selalu melewati titian batang pinang sambil mengepit atau menjinjing.

Lucunya,kami tidak bisa melupakan jasa orang orang seberang kali, terumtama karena ayam ayam jago mereka.Setiap fajar seakan ayam jago menjadi milik orang seberaqng kali karena jago mereka selalu berkokok lebih awal dari jago siapa pun, bahkan lebih awal dari kokok muadzim di surau kami.
Untuk saudaraku orang orang sebrang kali aku hanya bisa tersenyum dan mengerakkan kepala.Lalu Kang Samin megulangi permintaannya,agar aku pergi menjenguk Madrakum si botoh adu ayam dari seberang kali.Ketika aku melawati titian batang pinang itu.Pakis-pakisan di tebing parit hijau dan segar dengan dengan tetes-tetes embun di puncak-puncaknya.Segar seperti perawan yang basah rambutnya setelah mandi keramas.
Di rumah Madrakum sudah ada enam atau tujuh lelaki.Aku duduk di atas kursi dekat kepala Madrakum.Kang Smin membuka jendela singkap yang harus selalu ditopang dengan sebilah kayu.Kang Samin menduga aku akan membaca kitab.Dia tidak tahu aku hafal Surah Yassin di luar kepala.Orang-orang seberang kali ternyata bisa menciptakan hening ketika aku membacakan ayat-ayat suci.Tapi ayam-ayam jago mereka tidk.maka suaraku sering tengelam oleh suara kokoh jago yang bersahutan tak henti-hentinya.selesai dengan bacaan suci,aku bangkit.aku permisi pulang hendak menyampaikan berita perikeadaan madrakum sekali lagi disebut dengan keheningan.        
Yang pertama kulakukan setelah sampai kembali ke rumah adalah memberitahukan keadaan madrakum kepada istriku sendiri.lalu aku keluar hendak menghubungi tetangga kiri-kanan.tapi baru mendapat satu rumah aku harus menghentikan niat.kang samin muncul.Langkahnya panjang-panjang.
;;wah,mas.Terima kasih.Kang madrakum sudah tiada.Sungguh-sungguh sudah mati dia.Terima kasih,Mas’’                                                                                                                                                     
‘Inna lilahi’’
‘’Ya. Tapi ya itu.Mas sekali madrakum tetap madrakum.Dia suka aneh-aneh saja,’’Kata kang samin sambil tersenyum.
‘’Kamu menertawakan saudara yang baru meninggal?’’Maksudku bukan begitu.Hanya mau bilang,Mandra-kum suka aneh-aneh .Itu saja.’’
Maka sambil senyum-senyum, samin bercerita tentang kerabatnya di seberang kali itu.Katanya,tidak lama setelah aku mengundurkan diri madrakum bangkit.Turun dari membuat gerakan-gerakan persis ayam jago sedang mengombal betinanya.Tidak hanya itu. Madrakum kemudian keluar halaman ,lagi-lagi berdiri dengan megah .Matanya liar.Kedua tangannyamengembang untuk membuat gerakan-gerakan memgempak.Kaum kerabat yang terpana dibuat lebih kecut karena kemudian madrakum berkokoh berkali-kali.Suaranya demikian mirip dengan binatang yang dipili-haranya sehinga semua ayam jago di seberang kali menyahutnya berganti-ganti. Tapi semuanya segera berakhir ketika madrakumkemudian jatuh  melingkar di tanah.Mati.     
WANGON JATILAWANG
Wajah dua temanku mendadak berubah ketika Sulam masuk.Mereka makin bingung melihat Sulam terus melangkah dan berdiri tepat di sisiku.Kedua serta sepatu bagus itu,tentu tak mengenal Sulam.Namun pasti mengenal dia.Sepanjang ruas jalan raya kelas dua itu nama Sulam sangat terkenal.
Kedua tamuku yang berbaju lengan panjang dan bersepatu bagus itu mengangguk-angguk.Kukira keduanya mersa heran.Tetapi aku tak tahu,apakah mereka heran terhadapku atau tehadap orang-orang kenduri yang tersinggung oleh kedatangan Sulam itu.
Wangon dan Jatilawang adalah duo kota kecamatan.Jarak keduanya tujuh kilometer itu pulang pergi.Memasuki bulan puasa,Sulam tetap singgah ke rumahku setiap pagi.Tetapi sikapnya berubah.Dia kelihatan malu ketika menyantap nasi yang kuberikan.Setiap kali dalam kesempatan berada Sulam selalu bercolotes.
Dekat hari lebaran,pagi-pagi sekali,Sulam telah berada di rumahku.Aku tidak melihat kedatangannya,dan tiba-tiba saja dia sudah duduk di ruang makan.Sulam mengangkat muka lalu tersenyum aneh.Nasi di depannya dimakan dengan lahap,sementara aku pergi kandang ayam.
Jam tujuh pagi hari itu juga penyesalanku menghunjam ke dasar hati.Seorang tukang becak sengaja datang ke rumahku.Pak,Sulam mati tergilas truk di batas kota jatilawang.Bisa jadi tukang becak itu masih berkata banyak.Namun kalimat pertamanya yang terdenga sudah cukup.Aku tak ingin mendengar ceritanya lebih jauh.Aku malu,perih.
PENGEMIS DAN SHALAWAT BADAR
Bus yang aku tumpangi masuk terminal Cirebon ketika matahari mencapai pucuk langit.Suasana sungguh gerah,sangat bising dan para penumpang tak berdaya melawan ke adaan yang sangat menyiksa itu.Dalam ke adaan seperti itu,harapan para penumpang hanya satu.Yaitu hendaknya sopir cepat datang dan bus segera bergerak kembali untuk meneruskan perjalanan ke Jakarta.
Sementarapenumpang lain kelihatan sangat gelisah dan jengkel,aku mencoba bersikap lain.Perjalanan semacam lain sudah puluhan kali aku alami.Masih banyak hal yang belum sempat aku baca ketika seorang lelaki naik ke dalam bus.
Kulihat dan kudengar sendiri ada lelaki membaca shalawat badar untuk mengemis.Ku kira pengemis itu sering mendatangi pengajian-pengajian.Ku kir dia sering mendengar ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup dunia maupun akhirat.

Shalawat yang di baca oleh pengemis itu mengalun dan terdengar makin jelsa karena tak ada lagi suara kondektur.Para penumpang membisu dan terlena dalam pikiran masing-masing.Aku pun mulai mengantuk sehingga lama-lama aku tak bisa membedakan mana suara shlawat dan mana derum mesindiesel.Telingaku dengan gemblang mendengar suara lelaki yang terusa berjalan dengan tenang kea rah timur itu:”shalatullah,salamullah,ala thaha rasulillah…”