Kamis, 12 Mei 2016

Novel - Senyum Karyamin

SENYUM             KARYAMIN
PRAKATA
Usaha mengumpulkan cerita Ahmad Tohari ini sebenarnya telah saya mulai sejak tahun 1984.Keterkaitan saya terutama lantaran gaya bahasanya yang lugas,jernih,dan juga sederhana,di samping kuatanya metafora dan ironi.Soal lingkungan hidup yang jarang dijamah atau dijadikan latar oleh pengarang Indonesia justru menjadi salah satu daya pikat karya-karya Tohari.Kekuatan latar itu jadi terasa lebih pas karena yang tampil sebagai tokoh sentralnya adalah warga desa dari kalalangan wong cilik.Ia seolah-olah mewakili teriakan rakyat kecilatau masyarakat petani yang miskin,bodoh,dan meralat.
SENYUM KARYAMIN
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati.Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali.Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalanannya selamat.Meskipun demikian,pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir  .Tubuhnya rubuh,lalu mengelinding ke bawah,berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya.
Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati.Meski dengan lutut yang sudah bergetar,jemari kaki dicengkramkannya ke tanah.Bisa jadi Karyamin akan selamat ke atas bila tak ada burung yang nakal.Seekor burung paruh udang terjun dari ranting yang menggantung di atas air,menyambar seekor ikan kecil,lalu melesat tanpa rasa salah hanya sejengkal di depan mata Karyamin.Dan Karyamin masih terduduk sambil memandang ke dua keranjangnya yang berantakan dan hampa.Angin yang bertiup lemah membuat kulitnya merinding,meski matahari sudah cukup tinggi.
Tetapi kawan-kawan Karyamin mulai berceloteh tentang perempuan yang sedang menyeberang.Mereka melihat sesuatu yang enak di pandang.Mereka tertawa bersama.Mereka,para pengumpul batu itu,memang pandai bergembira dengan cara mentertawakan diri mereka sendiri.Dan Karyamin tidak ikut tertawa,melainkan cukup tersenyum.Memang Karyamin telah berhasil membangun Metamorana kemenangan dengan senyum dan tertawanya.
Jadi,Karyamin hanya tersenyum.Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar.Diambilnya keranjang dan pikulan,kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan.Ketika di perjalanan si paruh udang kembali melintas cepat dengan suara mencecet.Karyamin tidak lagi membencinya karena sadar,burung yang demikian sibuk pasti sedang mencari makanan buat anak-anaknya dalam sarang entah di mana.Oh,si paruh udang.Punggungnya biru mengkilap,dadanya putuh bersih,dan paruhnya merah saga.Tiba-tiba burung itu menukik menyambar ikan kepala timah sehingga air berkecipak.Karyamin berjalan cepat meskipun kadang secara tiba-tiba banyak kunang-kunang menyerbu ke dalam rongga matanya.
Walaupun masih dengan seribu kunang-kunang di matanya,Karyamin mulai berfikir ada perlunya dia pulang.Maka pelan-pelan Karyamin membalikan badan,siap kembali turun.Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum,melainkan tertawa keras-keras.Demikian keras sehinnga mengundang seribu lebah masuk ke telinganya,seribu kunang masuk ke dalam matanya,lambungnya yang kepompong berguncang-guncangdan merapuh kan keseimbangan seluruh tubuhnya.
JASA-JASA BUAT SANWIRYA
Ranti dan aku patuh saja mengikuti perintah-perintah Sampir.Membukakan ikat pinggang Sanwirya dan membersihkan mukanya dari kotoran muntahan.Sampir mundur ketika dukun datang.Ia pasti akan menggerak-gerakan tangan Sanwiya bila dukun tidak mencegahnya.Ajian sangkal patung sedang dibacakan.
Cara kasihan kepada penderes itu.Menyobek kausyang sedang ku pakai untuk membalut luka Sanwirya adalah sejenis rasa kasihan yang telah kulakukan.Musim ini semua orang hanya menanam ubi estepe sebab celeng dan monyet tak mau menyukainya.Ketika semuanya terdiam,rintihan Sanwirya terdengar kembali .Sekarang suaranya datang dari pangkal tenggorokannya.Suara batuk dan muntah balik dinding membuat Sampir mengurungkan gelaknya.
Lima anak kecil memandang Sampir yang terbahak.Mereka tidak menutupi kemaluannya masing-masing.Di atas pundak mereka ada seikat ranting bambu untuk memasak nira.Nyai Sanwirya kedengaran mengisak dan akhirnya meratap dengan panjang.Di bawah pohon manggis,aku lihat dia jatuh tersandung pongkor,bangun dan lari.

SI MINEM BERANAK BAYI
Kasdu terus berjalan.Lepas dari perkampungan dia menapaki jalan sempit yang membelah perbukitan.Kiri-kanan jalan adalah tebing dengan cerdasnya yang kering-renyah berbongkah-bongkah.Akar-akaran menggantung pada tebing jalan itu.Menggapai-gapai sepeti cakar-cakar mati yang ingin meraih tanah.Langkah kasdu yang cepat diiringi suara “krepyak-krepyak”; bunyi dedaunan kering yang remuk terinjak.
Di bawah matahari wajah kasdu kelihatan makin keras.Alis mata menyembunyikan sorot yang berat.Wajah Kasdu memperlihatkan bekas-bekas tempaan yang pahit.Di depan ceruk tanah yang biasa menampung mata air itu,Kasdu berdiri bisu.Tak ada air barang setetes.Ceruk itu penuh dengan daun angsana kering.Menyertai langkah-langkahnya yang mulai melambat,Kasdu teringat akan Minem,istrinya.
Seorangg bayi sebesar lengan tergolek tak berdaya di sampingnya.Bayi itu kecil,kecil sekali.Kasdu merasa sukar percaya bahwa sesuatu yang bergerak lemah dan bersuara nyaris mirip anak kucing itu adalah seorang bayi yang bisa menjadi manusia.Tetapi bayi sebesar lengan itu terpaksa terhempas dari rahim Minem ketika Minem terjatuh sebagai membawa tembikar penuh air.
Kasdu melihat sendiri ketika Minem telentang dengan kedua lututnya yang terlipat.Mukanya merah padamdan napasnya tersengal.Orang-orang perempuan yang berpengalaman memberi petunjuk kepada Minem,bagaimana mengambil sikap hendak melahirkan.Kini Kasdu dalam perjalanan ke rumah mertuanya hendak melaporkan perihal Minem.Bagaimana tanggapan mertuanya nanti adalah tanda tanya besar yang sedang menggalau hati Kasdu.
Tidak tahu.Sungguh,Kasdu tidak tahu mana yang bakal terjadi.Seperti dia juga tidak tahu mengapa perkawinanya dengan Minem mesti menghasilkan seorang bayi yang sungguh kecil itu.Seperti dia juga tidak tahu apakah Minem dan si kecil itu masih hidup.Makin dekat ke rumah mertuanya,langkah-langkah Kasdu makin lambat.Bukan hanya karena lelah,tetapi terutama hentikanrasa tak menentu Kasdu menunggu tanggapan kedua orang mertuanya.
SURABANGLUS
Bunga-bunga api kecil melintik ke udara ketika tangan Suing mengusik perapian.Tangan yang pucat dan bergerak lemah.Agak jauh dari perapian,Kiriman ,teman Suing,duduk lemas bersandar pada sebuah tonggak.Kini mereka merasa aman bersembunyi dalam sebuah belukar puyengan.Tentulah singkong itu belum empuk.Tetapi tangan Suing terus mengusik perapian untuk mengeluarkan isinya.Tiga gelintir singkong sudah di keluarkan.Suing memukul-mukulkan sepotang kayu untuk mematikan bara pada ujung-ujung singkong bakar itu.Kimin menghentiksn kata-katanya karena melihat wajah Suing berubah menjadi topeng yang pasi.
Akhirnya Suing jatuh pingsan sudah dimengerti oleh Kimin.Tubuhnya menggigil,dingin seperti kulit kodok.Bols mata yang pucat itu hanya bergulir perlahan.Reka-reka Kimin berhasil membuat Suing menjadi lebih tenang.Wajah topengya berangsur hidup.Matahari yang berada di tengah juring langit bagian barat.Kimin berlari turun.Dirinya menjadi satu-satunya titikyang bergerak di antara ribuuan tonggak-tonggak yang berbaris mati.Kimin ingin secepatnya sampai ke tempat Suing.Hanya karena air dan sebungkus nasi di tangannya,yang mungkin berarti nyawa Suing.Kimin bangkit,berjalan berputar-putar karena bingung.
TINGGAL MATANYA BERKEDIP-KEDIP
Kami tdak menyangka akhirnya si Cepon,kerbau kami,rubuh di tengah sawah yang hendak dibajak.Tidak seperti tahun-tahun yang lalu,musim pengujan kali ini ayahdi buat pusing oleh si Cepon.Kerbau itu menjadi binal.Dua hari yang lalu ketika datang atas panggilan ayah,Musgepuk mulai menangani kerbau kami dengan tipu daya.Dalam keadaan terguling di tanah,kerbau kami tidak bisa berbuat banyak.Apalagi kemudian Musgepuk juga mengikat kedua kaki depannya.Kulihat ayah memaksakan dirinya untuk bungkam.Naumun garis-garis samar pada wajah ayah bisa aku baca.
Beberapa orang perempuan menunjukan rasa ngeri melihat jarum besar serta tali ijuk di tangan Musgepuk.Mereka menguncupkan bahu dan menutup wajah dengan telapak tangan.Wajah perempuan itu berubah menjadi masam.Musgepuk tertawa lebar karena merasa sayap kata-katanya sampai kepada sasaran dengan telak.
Jadi,semua orang menahan rasa karena akan melihat darah menguncur dari hidung si Cepon.Hasil permainan Musgepuk segera terlihat.Terbukti Musgepuk bersyaraf tangguh.tanganya terus bekerja.Tak ada manusia yang merasa lebih puas dari pada dia yang baru saja berhasil menerangkan arti keberadaanya.
Si Cepon yang tergolek dan setengah mengapung di atas lumpur dua hari kemudian.Aku dan ayah berdiri tegak jauh dari pemtang.Kami melihat Musgepuk menggeleng-gelengkan kepala.Di bawah matahari yang panas,aku dan ayah menyaksikan Musgepuk menjatuhkan pundak lalu pergi meninggalkan si Cepon tanpa berbicara sedikit pun.
AH,JAKARTA
Kedatangannya pada suatu malam di rumahku memang mengejutkan.Sudah lama aku tidak melihatnya.Malam itu dia datang.Jalannya terpincang-pincang.Lima jari kaki kanannya luka.Perbanya sudah kumal.Matanya menatap ku sebentar.Lalu menunduk.Lehernya kelihatan kecil.Kami bertatapan.Aku tahu dia sedang menyelidiki sikapku,apakah kedatangannya tidak membuatku susuah.
Suasana yang semakin cair membuat karibku itu makin lancar bercerita.Sebuah pengakuan yang lengkap yang pasti disukai oleh para penyidik.Hanya diperlukan jepit buku buatan Taiwan untuk mendobrak jendela nako.Dia memperagakan pada jendela nako di rumahku.Yang punya rumah bangun dan menjemput kami di ruang tengah dengan pistol di tangan.Aku menutup mata dengan bantal.Istriku masih nyerocos.
Tetapi akhirnya dia mengalah,diam setelah berkali-kali mendesah panjang.Pagi-pagi setelah subuh kubuka pintu kamar karibku.Dia sudah lenyap.Entahlah,sejak saat itu aku jadi senang pergi ke pasar.Di depan pasar kecild di kotaku yang kecil ada terminal colt.Lama aku berdiri bingung tak tahu harus berbuat apa.Mayat karibku teronggok hanya dengan cawat Casanova.
Ketika kutinggalkan tepian kali Serayu yang berajak dua puluh kilo dari rumahku itu,ternyata ada beberapa orang yang menonton.Apalagi sebentar lagi kali Serayu akan banjir.Kubur karibku akan tersapu air bah.Belulangnya akan jadi antah-barantah.
BLOKENG
Maka Blokeng pun melahirkan bayinya: perempuan.Lalu kampungku tiba-tiba jadi lain,terasa ada kemandekan yang mencekam.Periham perempuan hamil di luar nikah,sebenarnya tidak lagi menjadi isu yang mengesankan di kampungku.Tetapi tentang si Blokeng memang tak ada duanya.Jadi,ketika Blokeng bunting,lalu melahirkan bayi perempuan,kampuang blingsatan.
Perempuan-perempuan berdecap-decap sambil mengusap dada.Kaum lelaki kampungku cengar-cengir.Sebab Blokeng memang tak ada duanya dan setiap perempuan akan merasa demikian malu bila diperbandingkan dengan dia.Maka keesokan hari tersisir berita: ayah bayi Blokengadalh seorang lelaki yang memiliki lampu senter.
Sekali waktu ada sas-sus baru.Katanya,Blokeng memberikan keterangan lain tentang laki-laki yang membuntinginya.Dia adalah seorang laki-laki yang malam-malam merangkak ke dalam sarangnya dan memakai sandal jepit.Sampai Blokeng dengan selamat melahirkan bayinya dibidani nyamuk dan kecoa.
Lurah Hadining tersenyum.Setelah sekian hari memikirkan cara buat melenyapkan keblingsatan warganya akibat kelahiran bayi Blokeng.Kemudian Lurah Hadining meminta kampungku menjadi saksi.Sejenak kampungku terpana mendengar ucapan lurah Hidining.Gubuk Blokeng penuh dirubung orang.Suara langkah kaki di tanah becek.
Kampungku tergagap-gagap,tak terkecuali lurahnya,sedetik setelah mendengar ucapan Blokeng.Lihatlah wajah-wajah mereka yang baur dan buram.Mereka menggaruk kepala masing-masing yang sama sekali tidak botak kecuali Lurah Hadining.Hanya Blokeng sendiri yang tidak ikut blingsatan.
SYUKURAN SUTABAWOR
Hari ini sebuah sumber berita yang amat terpercaya mengatakan bahwa Sutabawor sedang mengadakan syukuran.Yang membuat Sutabawor selalu kesal adalah sebatang pohon jengkol,kata sumber berita tadi.Orang tani seperti Sutabowor mengerti bila bunga-bunganya di rubung serangga,itu pertanda baik; bunga itu pasti akan tubuh menjadi buah.
Tetapi menurut sumber berita itu ,Sutabowor selalu kecewa karena bunga jengkolnya luruh ke tanah dan tak secuil pun yang menjadi buah.Sekali waktu karena telah berputus asa Sutabowor selalu kecewa karena bunga jengkolnya luruh ke tanah dan tak secuil pun yang menjadi buah.
Pada musim berikut,ternyata pohon jengkol Sutabowor berbunga dan berbuah sangat lebat.Dahan-dahannya runduk karena menahan beban berat.Sutabowor lansung sujud syukur dan mengadakan syukuran di rumahnya.Dalam acara syukuran,kepada tetangga yang di undang Sutabowor menceritakan pengalamannya dengan pohon jengkolnya yang sekian lama tidak berubah.Sesudah syukuran Sutabowor menutup laporannya,sumber berita yang amat tepercaya itu mengatakan bahwa akhirnya mertua Sutabawor datang buat mengembalikan suasana sumringah.
“Sedulur-sedulur,dengarlah.Sampean semua jangan salah tafsir.Mantera itu adalah hasil pangraita pujangga zaman dahulu.Mertua Sutabawor terpekur.Dan menggeleng-geleng.Mulutnya lalu bergumam lirih sekali sehingga hanya sumber berita itu yang bisa mendengarnya.Hari itu sebuah sumber berita yang amat terpecaya mengatakan bahwa di rumah Sutabawor dengan ada syukuran.
RUMAH YANG TERANG
Listrik sudah empat tahun masuk kampungku dan sudah banyak yang di lakukannya.Kampung seperti mendapat injeksi tenaga baru yang membuatnya menggeliat penuh gairah.Sebuah tiang lampu tertancap di depan rumahku.Sampai sekian lama,rumahku tetap gelap.Ayahku tidak mau pasang listrik.
Sampai sekian lama,rumahku tetap gelap.Kampungku yang punya kegemaran berceloteh seperti mendapat jalan buat berkata seenaknya terhadap ayah.Kadang celoteh yang sampai ke telingaku demikian tajam sehingga aku hampir tak kuat menerimanya.
Ketika belum tahu latar belakang sikap ayah,aku sering membujuk.Betpa juga ayah adalah orang tuaku,yang membiayai sekolahku sehingga aku kini adalah seorang propagandis pemakaian kondom dan spiral.Ketika ayahku sakit,beliau tidak mau dirawat di rumah sakit.Keadaan beliau makin hari makin serius.Tapi beliau bersiteguh tak mau diopname.Tidak lama sesudah itu ayah meninggal dunia.Dengan kepergiannya aku merasa sedih sekali.Aku di tinggalkan oleh orang yang sangat aku cintai.
Seratus hari sesudah kematian ayah,orang-orang bertahlil di rumahku sudah duduk di bawah lampu neon dua puluh watt.Mereka memandangi lampu dan tersenyum.Linglung,tiba-tiba mulutku menyerotos.Kepada para tamu yang bertahlil aku mengatakan alas an yang sebenarnya mengapa ayahku tidak suka listrik,suatu hal yang seharusnya tetap aku simpan.Aku siap menerima celoteh dan olok-olok yang mungkin akan dilontarkan oleh para tamu.Semoga ayahku mendapatkan cukup cahaya di alam sana.
KENTHUS
Keluar dari rumah ketua RT,Kenthus merasa dirinya bukan lagi seorang Kenthus.Wajahnya bingar.Senyumnya sesekali berubah menjadi bentuk bibirnya yang berhias cokop di kedua ujungnya.Sampai di rumah,Kenthus mendorong pintu bamboo dengan gaya yang gagah.Kenthus bangkit.Kediriannya yang baru menggeliat sejak pulang dari rumah ketua RT pagi tadi,tersinggung.
Menjelang pukul tiga,beberapa orang sudah muncul di rumah Khentus membawa buntut tikus.Ada yang di ikat seperti iktan kacang panjang.Kenthus berlagak tak acuh.Dia sibuk menata meja dan kursi buat dirinya sendiri.Lalu duduk penuh gaya,di tangannya ada pensil dan kertas kumal.Dalam hati,Khentus berdoa,kiranya dia tidak lupa bagaimana membuat tulisan cakar ayam.
Kenthus tetap duduk,tekun dengan cakar ayam yang sedang dibuatnya di atas kertas lusuh.Dia tidak merasa perlu cepat tanggap karena dia sudah mimpi nunggang macan.Kenthus masih terkekah melihat liput-liput yang bergerak dalam antrean.Sesunggahnya Kenthus tidak menghendaki tontonan di hadapannya cepat berakhir.Tetapi tiang ember rumahnya berderak oleh tekanan orang-orang yang antre.Kenthus bengong.Dia hanya melihat tanpa daya istinya yang lari lalu membanting pintu dari luar.
ORANG-ORANG SEBERANG KALI
Kami menyebut mereka orang-orang seberang kali.Terlalu berlebihan sebenarnya karena tinggal tidak lebih dari seratus meter dari kami.Lalu kami mengira titian batang pinang jarang di lalui orang karena siapa saja akan takut tergelincir dan melayang dua meter ke bawah lalu hinggap di atas pasta kuning? Yang jelas mereka selalu melewati titian batang pinang sambil mengepit atau menjinjing.

Lucunya,kami tidak bisa melupakan jasa orang orang seberang kali, terumtama karena ayam ayam jago mereka.Setiap fajar seakan ayam jago menjadi milik orang seberaqng kali karena jago mereka selalu berkokok lebih awal dari jago siapa pun, bahkan lebih awal dari kokok muadzim di surau kami.
Untuk saudaraku orang orang sebrang kali aku hanya bisa tersenyum dan mengerakkan kepala.Lalu Kang Samin megulangi permintaannya,agar aku pergi menjenguk Madrakum si botoh adu ayam dari seberang kali.Ketika aku melawati titian batang pinang itu.Pakis-pakisan di tebing parit hijau dan segar dengan dengan tetes-tetes embun di puncak-puncaknya.Segar seperti perawan yang basah rambutnya setelah mandi keramas.
Di rumah Madrakum sudah ada enam atau tujuh lelaki.Aku duduk di atas kursi dekat kepala Madrakum.Kang Smin membuka jendela singkap yang harus selalu ditopang dengan sebilah kayu.Kang Samin menduga aku akan membaca kitab.Dia tidak tahu aku hafal Surah Yassin di luar kepala.Orang-orang seberang kali ternyata bisa menciptakan hening ketika aku membacakan ayat-ayat suci.Tapi ayam-ayam jago mereka tidk.maka suaraku sering tengelam oleh suara kokoh jago yang bersahutan tak henti-hentinya.selesai dengan bacaan suci,aku bangkit.aku permisi pulang hendak menyampaikan berita perikeadaan madrakum sekali lagi disebut dengan keheningan.        
Yang pertama kulakukan setelah sampai kembali ke rumah adalah memberitahukan keadaan madrakum kepada istriku sendiri.lalu aku keluar hendak menghubungi tetangga kiri-kanan.tapi baru mendapat satu rumah aku harus menghentikan niat.kang samin muncul.Langkahnya panjang-panjang.
;;wah,mas.Terima kasih.Kang madrakum sudah tiada.Sungguh-sungguh sudah mati dia.Terima kasih,Mas’’                                                                                                                                                     
‘Inna lilahi’’
‘’Ya. Tapi ya itu.Mas sekali madrakum tetap madrakum.Dia suka aneh-aneh saja,’’Kata kang samin sambil tersenyum.
‘’Kamu menertawakan saudara yang baru meninggal?’’Maksudku bukan begitu.Hanya mau bilang,Mandra-kum suka aneh-aneh .Itu saja.’’
Maka sambil senyum-senyum, samin bercerita tentang kerabatnya di seberang kali itu.Katanya,tidak lama setelah aku mengundurkan diri madrakum bangkit.Turun dari membuat gerakan-gerakan persis ayam jago sedang mengombal betinanya.Tidak hanya itu. Madrakum kemudian keluar halaman ,lagi-lagi berdiri dengan megah .Matanya liar.Kedua tangannyamengembang untuk membuat gerakan-gerakan memgempak.Kaum kerabat yang terpana dibuat lebih kecut karena kemudian madrakum berkokoh berkali-kali.Suaranya demikian mirip dengan binatang yang dipili-haranya sehinga semua ayam jago di seberang kali menyahutnya berganti-ganti. Tapi semuanya segera berakhir ketika madrakumkemudian jatuh  melingkar di tanah.Mati.     
WANGON JATILAWANG
Wajah dua temanku mendadak berubah ketika Sulam masuk.Mereka makin bingung melihat Sulam terus melangkah dan berdiri tepat di sisiku.Kedua serta sepatu bagus itu,tentu tak mengenal Sulam.Namun pasti mengenal dia.Sepanjang ruas jalan raya kelas dua itu nama Sulam sangat terkenal.
Kedua tamuku yang berbaju lengan panjang dan bersepatu bagus itu mengangguk-angguk.Kukira keduanya mersa heran.Tetapi aku tak tahu,apakah mereka heran terhadapku atau tehadap orang-orang kenduri yang tersinggung oleh kedatangan Sulam itu.
Wangon dan Jatilawang adalah duo kota kecamatan.Jarak keduanya tujuh kilometer itu pulang pergi.Memasuki bulan puasa,Sulam tetap singgah ke rumahku setiap pagi.Tetapi sikapnya berubah.Dia kelihatan malu ketika menyantap nasi yang kuberikan.Setiap kali dalam kesempatan berada Sulam selalu bercolotes.
Dekat hari lebaran,pagi-pagi sekali,Sulam telah berada di rumahku.Aku tidak melihat kedatangannya,dan tiba-tiba saja dia sudah duduk di ruang makan.Sulam mengangkat muka lalu tersenyum aneh.Nasi di depannya dimakan dengan lahap,sementara aku pergi kandang ayam.
Jam tujuh pagi hari itu juga penyesalanku menghunjam ke dasar hati.Seorang tukang becak sengaja datang ke rumahku.Pak,Sulam mati tergilas truk di batas kota jatilawang.Bisa jadi tukang becak itu masih berkata banyak.Namun kalimat pertamanya yang terdenga sudah cukup.Aku tak ingin mendengar ceritanya lebih jauh.Aku malu,perih.
PENGEMIS DAN SHALAWAT BADAR
Bus yang aku tumpangi masuk terminal Cirebon ketika matahari mencapai pucuk langit.Suasana sungguh gerah,sangat bising dan para penumpang tak berdaya melawan ke adaan yang sangat menyiksa itu.Dalam ke adaan seperti itu,harapan para penumpang hanya satu.Yaitu hendaknya sopir cepat datang dan bus segera bergerak kembali untuk meneruskan perjalanan ke Jakarta.
Sementarapenumpang lain kelihatan sangat gelisah dan jengkel,aku mencoba bersikap lain.Perjalanan semacam lain sudah puluhan kali aku alami.Masih banyak hal yang belum sempat aku baca ketika seorang lelaki naik ke dalam bus.
Kulihat dan kudengar sendiri ada lelaki membaca shalawat badar untuk mengemis.Ku kira pengemis itu sering mendatangi pengajian-pengajian.Ku kir dia sering mendengar ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup dunia maupun akhirat.

Shalawat yang di baca oleh pengemis itu mengalun dan terdengar makin jelsa karena tak ada lagi suara kondektur.Para penumpang membisu dan terlena dalam pikiran masing-masing.Aku pun mulai mengantuk sehingga lama-lama aku tak bisa membedakan mana suara shlawat dan mana derum mesindiesel.Telingaku dengan gemblang mendengar suara lelaki yang terusa berjalan dengan tenang kea rah timur itu:”shalatullah,salamullah,ala thaha rasulillah…”

Senin, 14 Maret 2016

novel - Dipaksa Nikah Dengan Perempuan Cantik

Smoga bermanfaat,,,,,

DIPAKSA MENIKAHI PEREMPUAN CANTIK

Seminggu lagi, aku akan menikah, tetapi hari ini aku masih di sini, kota besar, sendiri memikirkan nasib. Tidak ada uang, tidak ada mobil, tidak ada pekerjaan, tidak ada apa-apa selain, handphone murah, dan oh... handphoneku ini juga tak ada pulsanya.
Sewa kontrakan pun belum aku bayar, tetapi aku akan menikah seminggu lagi. Acaranya sederhana, menikah dengan gadis kampung sebelah, di rumah keluarga gadis itu, dan aku juga tidak kenal siapa gadis itu. Orang tuaku yang mengaturnya, dan aku masih berpikir, mengapa orang tua gadis itu mau menikahkan anaknya dengan seorang laki-laki seperti aku.
Aku lelaki yang apabila ditanya apa kerjanya, aku tidak tahu bagaimana harus menjawab. Aku memang bekerja, tetapi hanya kerja sambilan di hotel, membantu kawan-kawan yang berjualan online di internet, dan sesekali mengikuti seminar MLM. Kebanyakan waktu dihabiskan duduk-duduk di kontrakan, menatap surat kabar untuk mencari kerja.
Lalu, atas atas dasar apa ayah dan ibu gadis itu, mau menikahkan anaknya denganku, dan hantaran kawinnya, cuma senaskah Al Quran, dan mas kawin cuma Rp250.000. Lebih mengherankan, semua biaya acara ditanggung oleh keluarga si gadis.
Kenapa? Aku semakin tidak mengerti, kok mau orang tua gadis itu, mengawinkan aku dengan anak perempuannya yang cantik, yang berkerudung rapi. Ya, aku sudah melihat fotonya, dan karena kecantikannya, aku walaupun dengan semua keheranan itu, setuju juga dengan pernikahan yang diatur oleh keluarga ini. Ditambah, perempuan itu lulusan universitas luar negeri, berkerja sebagai pegawai negeri yang gajinya, cukup untuk membayar angsuran mobil BMW.
Pada mulanya, aku pikir aku ibarat tikus yang jatuh ke dalam gudang beras, tapi ketika acara semakin dekat, aku mulai berpikir, mungkin ada yang disembunyikan oleh keluarga si gadis. Apakah foto yang diberi sama dengan wajah asli perempuan itu? Apakah perempuan itu sebenarnya janda? Atau yang paling menakutkan, jangan-jangan perempuan itu sedang mengandung anak orang lain, dan aku menjadi 'ayah' untuk anak itu.
Dari sinilah kisahku dimulai.
***
Tengah hari itu aku nekat pulang ke kampung halaman. Aku nekat, mencari tahu latar belakang calon istriku, dan mengapa ibu bapaknya, mau melepaskan anaknya kepada laki-laki seperti aku. Cuma, aku tidak tahu bagaimana cara untuk mencari tahu. Selama di dalam bus, aku beruntung duduk di sebelah seorang laki-laki yang ramah.
Kepada laki-laki itu aku bertanya, “Bagaimana cara cari tahu latar belakang calon istri kita?”
“Mudah kok. Kalau dia ada FB, buka FB dia, atau cari saja nama lengkapnya di internet. Nanti ada lah informasi tentang dia. Kalau susah, pergi tempat kerjanya, tanya kawan-kawannya, atau tanya saudara-saudaranya.”
Untuk mencari tahu tentang calonku itu di internet, nama lengkapya saja aku tidak tahu. Aku cuma diberitahu, namanya Sarimah. Berapa banyak orang punya nama Sarimah di internet? Banyak! Lalu aku ambil nasihat kedua dari laki-laki itu, tanya rekan-rekan sekerjanya, dan mujur aku tahu gadis itu bekerja di kantor Bappenas.
Sampai di kampung, aku pinjam motor ayah, lalu pergi ke kantor Bappenas. Aku tidak tahu apa jabatannya, tetapi kantor sebesar itu, pasti banyak orang yang namanya sama. Tetapi agak tidak logis juga kalau aku langsung masuk ke kantor dan bertanya tentang calon istriku. Lalu akhirnya aku ambil keputusan menunggu dan memperhatikan di seberang jalan.
Aku pikir, mungkin pada waktu makan tengah hari, Sarimah dan kawan-kawannya akan keluar, dan apabila sudah ingat wajah kawan-kawannya, setelah pulang nanti boleh lah saya tanya tentang Sarimah. Itulah rencanaku, rencana yang diatur dengan baik. Lalu aku pun duduk di atas motor menghadap kantor Bappenas yang cuma satu beberapa meter di depanku.
Kemudian datang pula rasa menyesal, sebab pada jam 11 pagi, cuaca sudah terik. Di situ belum ada pohon yang rindang, karena semuanya baru saja dipangkas dahannya. Sudah panas terik, satpam di luar kantor mulai memperhatikanku. Bukan Cuma satpam, malah orang yang lalu lalang di situ turut memperhatikan.
Aku lupa, jam kantor seperti itu, segala perbuatan yang tidak biasa akan jadi perhatian. Perbuatanku, yang duduk di depan kantor bukan perkara biasa. Nampak terlalu aneh.
Akhirnya, aku semakin menyesal karena dari jauh aku lihat seorang perempuan keluar dari kantor. Semakin dekat perempuan itu, semakin aku berdebar. Wajahnya semakin jelas, dengan kerudung kuning muda, dan baju kurung biru muda. Dia adalah calon istriku, yang Cuma aku kenal namanya. Sarimah. Hanya itu.
Aku sempat berpikir untuk menghidupkan motor dan kemudian pergi dari situ. Tetapi semuanya sudah terlambat, kemudian Sarimah berkata, “Kamu Salman?”
Aku memberikan senyuman yang paling terpaksa pernah aku buat. Lebih terpaksa daripada senyum terpaksa apabila bertemu dengan guru semasa sekolah dahulu.
“Ya, saya. Kok kamu bisa tahu?”
“Kawan di kantor yang beritahu, katanya ada laki-laki di sebearang jalan. Mereka menggodaku, katanya mungkin aku kenal, dan aku pikir wajahmu sama dengan foto yang ditunjukkan oleh ibu.”
Satu kantor pun tahun aku menunggu disini?! Duh! Payah betul caraku mencari informasi ini. Kemudian aku memerhatikan wajah Sarimah, dan ternyata wajah aslinya jauh lebih cantik daripada wajah di foto. Mungkin karena itu pass foto. Orangtuanya pun hanya memberikan satu foto. Entahlah, ibu dan ayahku pun mungkin memberikan pass fotoku. Ketika itu juga aku merasa jantungku berdebar, karena saat mengambil foto itu, aku baru saja bangun tidur.
Aku perhatikan pula perutnya, tetapi tidak nampak ada tanda-tanda perempuan mengandung. Saat aku memperhatikan, terasa tangannya menyilang menutupi perutnya, dan aku malu karena ketahuan memperhatikan perutnya. Pasti dia sadar kalau aku memperhatikan perutnya, entah apa yang dia pikirkan sekarang.
Aku rasa, Sarimah ini adalah perempuan yang berani. Berani untuk keluar berjumpa denganku. Kalau perempuan lain, tentu mereka tidak berani. Barulah aku sadar, inilah pertemuan pertamaku dengan calon istri aku. Pertemuan dalam keadaan yang agak aneh.
Selepas pertanyaan itu, kami terdiam. Kami hanya berdiri di tepi jalan raya, sambil memandang ke arah yang sebenarnya agak aneh untuk dipandang. Aku memandang ke ujung jalan, dan Sarimah memandang ke arah motor ayahku.
Aku tahu, ini keadaan yang tidak betul dan aku sebagai laki-laki perlu menunjukkan contoh yang baik kepada calon istriku. Jadi, selepas puas berpikir dan memberanikan diri, aku berkata, “Sudah makan?”
“Saya sedang diet.”
Nasib baik bagiku dia bilang sedang diet. Bagaimana kalau dia bilang, ayo kita makan, aku akan sangat jahat sekali, karena di dalam dompetku cuma ada uang dua puluh ribu rupiah. Mana cukup. Setelah itu, keadaan kembali sepi.
“Aku mau kembali ke kantor,” kata Sarimah sopan dan membuatku lega.
“Aku juga mau pulang,” balasku, dan ternyata, rasa legaku tidak berlangsung lama.
“Malam ini datanglah ke rumah.”
“Datang ke rumahmu?”
“Iya, makan malam dengan keluargaku.”
Aku terdiam. Berdebar-debar.
“Jemputlah sekalian ayah dan ibumu kalau mereka tidak ada halangan.”
“Baiklah, selepas maghrib insya Allah aku sampai.”
***
Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa tidak puas hati dengan diriku. Mengapa aku tiba-tiba menjadi kaku? Seharusnya, pada waktu itulah aku banyak bertanya dan mencari tahu kenapa dia dan keluarganya memilih aku.
Cuma malam ini aku merasa sedikit bingung. Alamat rumah Sarimah, aku bisa tanya ayahku, tapi mungkinkah aku patut bawa ayah dan ibuku sekaligus? Tidak.. Tidak.... Bukannya aku tidak mau, biasanya kalau ada ibu, habis semua rahasia anaknya dia ceritakan. Beliau senang sekali menceritakan rahasia anaknya.
Lagipula aku ada banyak rahasia yang tidak patut Sarimah dan orangtuanya tahu. Rahasia yang paling aku takuti dibocorkan oleh ibu adalah hampir setiap bulan aku masih meminta uang kepada ibuku. Memang memalukan, tetapi untuk pergi seorang diri, aku juga tidak berani.
Akhirnya, aku punya ide paling bagus. Aku melajukan motor ayah langsung ke rumah kawan lamaku, Rudy. Bukan sekedar kawan lama, tetapi juga sahabat karib. Aku yakin dia ada di rumah, karena dia juga senasib denganku, belum ada pekerjaan tetap. Bedanya, dia bertarung hidup di kampung, dan aku bertarung hidup di kota.
Sesampainya di rumah Rudy, aku lihat Rudy sedang duduk di tangga sambil bermain gitar. Itulah kemampuan Rudy yang sangat aku cemburui. Aku tidak pandai bermain gitar, bahkan tak tahu caranya.... oh... ada lagi rupanya kemahiran Rudy yang tidak aku miliki. Rudy pandai menggoda gadis dengan bermain gitar, dan Rudy sangat berani berhadapan dengan perempuan, tidak seperti aku. Itulah akibatnya, aku tidak punya keyakinan apabila berhadapan dengan perempuan.
“Lama banget kau gak muncul,” kata Rudy saat aku duduk di sebelahnya.
“Masa lama sih. Baru juga dua bulan lebih.”
“Lama itu.”
Aku diam, dan coba mendengarkan petikan gitar lagu rock terkenal, 'Suci Dalam Debu'. Aku coba menyusun kata untuk mengajaknya menemaniku malam ini, tetapi belum ada kata yang bagus.
“Aku dengar seminggu lagi kau mau nikah. Kok gak ngundang?” kata Rudy, dan itu secara tidak langsung memberikanku jalan untuk melaksanakan rencanaku.
“Ini acara pihak perempuan, jadi mereka cuma ngundang kerabat perempuan aja.”
“Kerabatmu gimana?”
Aku diam, karena aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya. Sebab dengan keuanganku sekarang, hidang mie goreng kepada tamupun aku tidak mampu.
“Lihat nanti saja lah. Kalau nanti kau sampai ke rumah ku, kau pergi dulu saja.”
Rudy semakin mengencangkan petikan gitarnya. Kini lagu Adele pula, 'Someone like you'. Entah mengapa, lagu yang temanya kecewa saja yang dia mainkan saat ini.
“Dia cantik gak?” Rudy memandang dengan senyuman penuh berharap.
“Cantik.”
“Gimana bisa kenal dia?” Senyuman Rudy kini semakin tinggi harapannya. Harapan jenis apa aku tidak tahu. Mungkin harapan untuk melihat aku bahagia. Walaupun aku merasa seperti Rudy pasti berpikir tidak logis aku mendapatkan gadis cantik.
“Ayah dan ibuku yang menjodohkan. Aku terima saja.”
“Kau belum pernah ketemu dia?”
“Baru tadi.”
“Memang dia cantik?”
“Memang cantik.”
Rudy kini memperlihatkan wajah orang yang sedang gusar dan berpikir panjang.
“Apa pekerjaannya?”
“Pegawai di Bappenas. Aku tidak tahu jabatannya. Tetapi ibuku bilang, dia punya jabatan cukup tinggi.”
“Hmm... Dia cantik, pekerjaan bagus, tapi kok dia mau kawin denganmu? Heran.”
Aku menelan liur. Nampaknya Rudy juga sudah merasa ada sesuatu yang tidak benar. Dia pandangi wajahku.
Rudy menyambung, “Kau, ganteng juga nggak. Heran-heran.”
Aku tersenyum pahit. Aku akui, aku memang tidak tampan dan itu pun sebenarnya merisaukanku juga.
“Kau tidak heran?” tanya Rudy.
“Ya heran juga sih.”
“Kau sudah periksa latar belakang perempuan itu?”
Aku pandangi wajah Rudy. Akhirnya peluangku tiba.
“Malam ini kau ikut aku. Temani aku ke rumah calonku itu.”
“Hah? Buat apa?” Rudy memandang heran.
“Dia ajak aku makan malam di sana. Ketemu dengan ayah dan ibunya. Nanti itu, baru akan aku cari tahu latar belakangnya.”
“Kau pergi sajalah sendiri.” Rudy kembali memetik gitar.
“Kamu kayak gak tahu aku. Aku segan. Aku butuh kamu temani aku. Kamu kan berani, mungkin kamu bantu aku kepo juga.”
“Kepo? Kepoin apa?”
“Tanyain lah hal-hal yang bisa ditanyain. Kamu kan berpengalaman dalam dunia percintaan. Pasti bisa bantu aku.”
Akhirnya, setelah lama aku bujuk, Rudy pun setuju.
***
Malam itu, walaupun aku sudah salin alamat dari ayahku, tetap saja aku tersesat. Aku sampai selepas Isya, bukannya selepas Maghrib. Aku lihat makanan sudah terhidang di atas meja, dan nampak sudah dingin. Mungkin perut Sarimah dan orang tuanya juga sudah lapar.
“Maafkan saya karena terlambat.”
“Gak apa-apa, masuklah,” kata seorang lelaki yang sebaya ayahku. Mungkin dia adalah ayah Sarimah dan calon ayah mertuaku.
“Ooo... Ini dia Salman. Ayahmu bilang kamu akan pulang lusa, kok cepat bener baliknya?” tegur seorang perempuan, yang aku yakin adalah ibu Sarimah.
“Ada yang harus diurus dulu di rumah,” balasku dan kemudian berkata, “Kenalkan ini kawan saya Rudy. Ibu dan ayah saya tidak bisa datang.”
Kemudian, Sarimah keluar dari dapur dan dia kelihatan sangat cantik. Tertegun aku dan aku sempat melihat wajah Rudy yang ikut tertegun.
“Beruntung kamu,” bisik Rudy.
Selepas makan, kami duduk di ruang tamu dan pada waktu itulah, aku lirik-lirik Rudy supaya mulai menjalankan rencananya.
“Kata Salman, ini pertama kali dia berjumpa dengan bapak dan ibu ya. Malah dengan Sarimah pun baru tadi ketemu.” kata Rudy, dan aku mulai berdebar-debar.
“Iya, ini pertama kalinya. Sebelumnya, kami lihat wajahnya dalam pass foto yang diberi oleh ibunya.” jawab ayah Sarimah.
Aku semakin berdebar-debar. Ibuku ngasih pass foto? Ah, sudah! Matilah aku!
“Tidak sangka, orang aslinya ganteng juga.” sambung ibu Sarimah.
Aku mulai merasa pipiku panas. Jarang sekali ada orang yang memuji aku tampan. Kalaupun ada, pasti ada maksudnya. Atau mungkin, ibu Sarimah hanya ingin menjaga perasaanku.
“Itulah saya heran. Karena Salman bilang, orangtuanya yang mengatur. Gak nyangka, zaman sekarang masih ada ya pernikahan yang diatur oleh orang tua. Apa rahasianya Pak?” Rudy memang tidak menunggu lama, terus saja dia bertanya sambil ketawa-ketawa kecil. Jadi, walaupun ini persoalan serius, tetapi ia nampak seperti bergurau.
“Tidak ada rahasia apa-apa. Emang Salman gak ngasih tahu kamu?”
Rudy memandangiku, kemudian dia pandangi ayah Sarimah dan menggeleng.
Lalu aku bilang, “Sebenarnya saya pun tidak tahu apa-apa.”
“Kamu tidak tanya ayah dan ibumu?”
Pada saat itulah, aku mulai merasa menyesal. Ya, aku tidak tanya pun kepada ayah dan ibuku mengapa beliau memilih Sarimah. Yang aku tahu, ibuku cuma tanya, “Mau ibu carikan kamu jodoh?” Aku pun menjawab, “Boleh.” Tiba-tiba, dua minggu kemudian, aku sudah bertunangan dan dalam satu bulan akan menikah. Itupun tunangan pakai uang ibuku. Memalukan betul.
“Saya tidak tanya.”
Ayah Sarimah mulai ketawa kecil.
“Begini, saya dan ayah kamu itu memang sudah lama kenal. Suatu hari, ngobrol-ngobrol di kedai kopi, kami bercerita tentang anak masing-masing, kemudian bercerita tentang jodoh, dan akhirnya, terus kepada rancangan mau menjodohkan anak masing-masing. Setelah itu, inilah yang terjadi,” jelas ayah Sarimah.
“Begitu saja Pak? Mudah sekali ya!” Rudy nampak terkejut, dan aku pun sebenarnya agak terkejut juga. Ya, mudah sekali ternyata.
Ibu dan ayah Sarimah hanya tersenyum lebar.
Ayahnya berkata, “Tidaklah semudah itu. Kami pun mau yang terbaik untuk anak bungsu kami. Kami pun mencari tahu latar belakang Salman.”
“Jadi Bapak tahu Salman ini menganggur dan tidak punya duit?” tanya Rudy, membuat aku geram tetapi dalam saat yang sama merasa sangat malu. Tiba-tiba aku berdoa supaya tubuhku menjadi kecil, supaya aku bisa menyembunyikan bukan saja muka, tetapi seluruh tubuhku di balik bantal.
“Tahu,” jawab ayah Sarimah sambil ketawa kecil lagi.
“Jadi?” Rudy bertanya sambil memutar tangan kanannya. Aku rasa, sebenarnya Rudy mau bilang, “Jadi, mengapa masih pilih Salman?” Mungkin karena tidak sampai hati, dia cuma pakai isyarat tangan saja. Ya, aku tahu betul sebab sudah lama aku kenal Rudy.
“Itulah yang diberitahu oleh ayahnya. Katanya, anak dia tidak tampan, tidak ada pekerjaan tetap, dan malah, bulan-bulan masih minta duit dari ibunya. Tetapi, dari situlah Bapak tahu, Salman ini akan menjadi suami yang baik.” Ayah Sarimah tidak lagi tersenyum, sebaliknya memandangku dengan wajah serius. Aku terus menunduk malu. Malunya aku. Rupanya mereka sudah tahu kalau aku ini masih minta duit selama berbulan-bulan kepada ibuku.
“Jadi?” Rudy sekali lagi menggerak-gerakkan tangannya.
“Ayahnya juga bilang, anaknya sering menelepon kampung, paling tidak dua kali seminggu. Dan, walaupun dia tidak punya pekerjaan tetap, kerjanya pun tidak menentu dengan gaji yang kecil, tetapi setiap kali mendapat gaji, ayahnya memberitahu, dia tidak pernah lupa memberikan sedikit kepada ibunya. Walaupun cuma dua ratus ribu. Jadi, bayangkan walaupun hampir tiap bulan dia kekurangan uang, tapi dia masih mau membantu orang tua. Itulah namanya tanggungjawab!”
Aku tertegun. Aku sebenarnya tidak menyangka ayahku menceritakan perkara itu juga kepada ayah Sarimah.
“Ooo... Tanggungjawab,” Hanya itu kata Rudy sambil mengangguk-angguk.
Ayah Sarimah menyambung perkataannya, “Tanggungjawab itu, bukan saat kita kaya saja. Tanggungjawab itu adalah sesuatu yang kita pegang disaat kita susah dan disaat kita senang. Lalu, dalam rumahtangga, tidak selamanya senang. Lebih banyak saat susahnya. Jadi, Bapak akan lega, karena tahu anak Bapak berada dalam tangan laki-laki yang bertanggungjawab.”
“Betul juga ya Pak. Lagi pula, Salman ini setahu saya dia tidak pernah lupa shalat dan tidak punya pacar, karena dia takut perempuan, hehe.” tambah Rudy yang membuat aku tersipu-sipu. Tidak kusangka Rudy memujiku.
“Shalat itulah perkara utama yang Bapak tanya kepada ayahnya, dan pacar pun Bapak tanya.” Ayah Sarimah kembali tertawa kecil.
“Susah mau cari orang seperti Bapak di zaman ini. Zaman sekarang, semua mau menantu kaya,” tambah Rudy lalu terlihat wajahnya tiba-tiba murung. Mungkin dia sedang bercerita tentang dirinya sendiri secara tidak sadar.
“Dulu, waktu Bapak menikahi ibu Sarimah, hidup Bapak pun susah. Bapak juga orang susah, cuma bekerja sebagai pembantu pejabat, sedangkan ibu Sarimah itu anak orang kaya di kampung. Alhamdulillah, keluarga istri Bapak termasuk yang terbuka. Lalu, kenapa Bapak tidak memberi peluang kepada orang yang susah, sedangkan Bapak dulu pun diberi peluang. Yang penting, dia susah bukan karena dia malas, tetapi karena memang belum rezeki. Beda sekali, orang malas dengan orang yang belum ada rezeki. Kalau susah karena duduk-duduk di rumah dan tidur berguling-guling, memang Bapak tidak akan terima,” jelas ayah Sarimah dengan panjang lebar.
Aku berasa mulai sedikit lega. Tidak kusangka, begitu pikiran ayah dan ibu Sarimah. Perlahan-lahan, perasaan maluku itu mulai berkurang. Perlahan-lahan juga, perasaan curigaku kepada Sarimah ikut berkurang.
“Anak Bapak hebat juga. Dia mau nurut kata Bapak. Zaman sekarang, biasanya semuanya sudah punya pacar,” kata Rudy. Aku tahu, Rudy juga sedang memasang umpan untuk mengetahui latar belakang Sarimah sekaligus. Aku kembali berdebar-debar.
“Alhamdulillah. Bapak sangat bersyukur diberi anak seperti Sarimah. Awalnya, Bapak khawatir juga, tetapi setelah satu minggu, Sarimah bilang setuju. Cuma Bapak tidak tahu apa yang membuat diadia setuju, mungkin Salman bisa tanya dia sendiri setelah menikah nanti,” kata ayah Sarimah, lalu dia, istrinya dan Rudy tertawa bersama. Tinggal aku dan Sarimah saja yang duduk diam-diam malu. Sempat aku melirik Sarimah, dan bertanya dalam hati, “Mengapa kamu mau dengan lelaki seperti aku?'
***
Alhamdulillah. Allah mudahkan usaha kami. Aku sudah sah menjadi suami Sarimah, dan setelah bersalaman dengan Sarimah, rasa gentar dan maluku kepada Sarimah mulai berkurang. Malah aku mulai memanggilnya, 'sayang'. Lalu setelah resepsi, aku dan Sarimah masuk ke dalam kamar, berdua-duan untuk pertama kalinya.
Dalam hati, masih kuingat pertanyaanku pada malam aku bertemu ayah dan ibu Sarimah. Kini pertanyaan dalam hati itu aku nyatakan dengan lidah, “Sayang, mengapa kamu setuju untuk menikah dengan laki-laki sepertiku? Laki-laki yang belum tentu masa depannya, dan mungkin juga membuat dirimu menderita.”
Tidak kusangka, pertanyaan melalui lidahku menjadi lebih panjang dan detil dari pertanyaan dalam hati.
Sarimah yang saat itu sedang duduk malu-malu, memandangku lalu mencium tanganku, dan berkata, “Ampuni Sarimah bang, ampuni Sarimah.”
Aku mulai berdebar-debar dan tidak enak hati.
“Ampuni apa sayang?”
“Sebab, Sarimah sebenarnya sempat curiga juga dengan Abang. Sarimah sempat tidak yakin dengan Abang. Malah Sarimah minta tolong kawan Sarimah, yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan Abang di kota supaya mencari tahu latar belakang Abang. Malah, Sarimah juga solat iskhtikarah hanya karena ragu-ragu kepada Abang.”
Debar jantungku kembali menurun. Rupanya, Sarimah lebih dulu mencari tahu latar belakangku? Malunya aku. Tetapi sekarang dia sudah jadi istriku, lalu aku angkat kepalanya dan kupandangi matanya.
“Abang ampunkan. Abang pun minta maaf, sebab Abang pun pernah juga berasa curiga kepadamu.”
Sarimah tersenyum. Bukan senyum manis biasa, tetapi senyuman seorang perempuan yang bahagia, dan senyuman itu sangat ajaib karena ikut membuat aku merasa bahagia. Mungkin inilah perasaan bahagia yang datang karena kita membahagiakan orang lain. Tetapi pertanyaanku tadi masih belum terjawab sepenuhnya.
“Jadi, apa kata kawanmu?” lanjutku ingin tahu. Aku risau, takut kawannya membicarakan yang tidak-tidak.
“Katanya, Abang ini tidak punya pekerjaan tetap. Motorpun pinjam punya teman, tapi katanya dia selalu melihat Abang membaca koran untuk mencari kerja, mengirim surat lamaran, dan selalu memeriksa kotak surat kalau-kalau ada surat lamaran yang dibalas. Maksudnya, Abang ini orang yang rajin berusaha. Katanya lagi, dia tidak pernah melihat Abang keluar dengan perempuan. Shalat pun pasti Abang berjamaah.”
Aku mulai tersipu malu. Takut ketahuan kalau aku tersipu, aku pun bertanya, “Tetapi orang secantik dirimu pasti banyak orang yang tertarik kan? Pasti banyak yang mau meminang dirimu, dan mungkin pasti juga yang ada sudah datang ke rumah untuk meminang.”
Sarimah sekali lagi tersenyum.
“Ya, memang banyak laki-laki yang mencoba dekat dengan Sarimah, tetapi Sarimah sangat takut. Sarimah ingat dengan kakak”
“Mengapa dengan kakak, sayang?” tanyaku segera.
Sarimah pun bercerita panjang lebar, dan aku baru tahu kalau kakaknya sudah meninggal. Kakak Sarimah dulu juga seorang perempuan cantik, dan banyak laki-laki yang meminangnya. Akhirnya, dia menikah dengan lelaki pilihan hatinya sendiri. Laki-laki yang tampan, berpendidikan tinggi, dan bekerja dengan gaji yang lumayan. Sayangnya, setelah satu tahun menikah, suami kakaknya mulai berubah karena belum juga mendapatkan anak. Dia mulai pulang terlambat, dan suka marah-marah.
Bahkan, suaminya sampai di PHK karena krisis ekonomi. Hidup mereka menjadi susah, dan suaminya juga semakin banyak berubah. Dia sudah tidak pulang berhari-hari, apabila pulang, hanya untuk meminta uang, marah-marah dan memukul istrinya. Kemudian terungkaplah bahwa selama ini suami kakaknya itu sudah memiliki perempuan lain. Lalu pada hari itu, dengan hati yang kusut, kakak Sarimah gagal mengendarai mobilnya hingga kecelakaan dan meninggal dunia. Diakhir ceritanya itu, aku langsung menggenggam tangan Sarimah erat-erat.
“Karena itulah, Sarimah takut kalau mau menerima laki-laki sembarangan dalam hidup Sarimah. Malahan, Sarimah juga sebenarnya sudah mengamanahkan ayah dan ibu untuk mencari laki-laki yang sesuai untuk Sarimah. Biar tidak kaya, biar tidak tampan, tetapi lelaki itu mampu membahagiakan hidup dengan kasih sayang dan mendamaikan hati dengan agama.”
Akhirnya, semuanya sudah jelas. Kenapa ayah dan ibu Sarimah memilih laki-laki sepertiku, dan mengapa Sarimah menerimaku dalam hidupnya. Genggaman tanganku semakin kuat.
“Abang... Tolong jaga Sarimah. Jaga dan mohon jangan lukai hati Sarimah. Mohon bang,” rayu Sarimah dan air matanya pun mulai menggenang, dan kemudian menetes di pipinya yang cantik. Aku segera menyeka air mata Sarimah.
“Abang bukanlah laki-laki terbaik, dan Abang tidak mampu berjanji menjadi suami yang terbaik untukmu. Abang cuma mampu berjanji, Abang berusaha menjadi laki-laki yang terbaik itu, dan berusaha menjadi suami yang terbaik untukmu,” kataku perlahan, dan Sarimah terus memelukku. Aku merasa, bahuku sudah basah dengan air mata Sarimah.
Karya : Bahruddin Bekri